Rabu, 17 Agustus 2016 06:00
Opini
Oleh Wasid Mansyur
Ketika
penulis diberi kesempatan wawancara dengan salah satu cucu Kiai Mas
Mansyur Ndresmo, yakni Ibu nyai Fatimah Zahra binti Kiai Mas Muhajir ibn
Kiai Mas Mansur, terdapat cerita yang cukup menarik kaitannya dengan
rasa kebangsaan (baca; nasionalisme) kiai-kiai pesantren, khususnya
kiai-kiai Ndresmo Surabaya. Bagaimanapun, kiai dan santri-santri Ndresmo
dikenal dalam beberapa cerita rakyat kaitan keterlibatan mereka dalam
mengusir penjajah di kota Surabaya, khususnya dalam merebut kemerdekaan,
meskipun sedikit sekali coretan sejarah yang menulisnya.
Keterlibatan
kiai-kiai Ndresmo dalam merebut kemerdekaan telah dikenal di lingkungan
santri-santri Ndresmo. Bahkan, penulis melakukan lacakan tentang hal
ini, menyimpulkan bahwa dari sekian kiai-kiai tersebut adalah Kiai Mas
Mansur Ndresmo. Untuk itu, tulisan ini akan lebih fokus pada sosok Kiai
Mas Mansur kaitan keterlibatannya dalam merebut kemerdekaan, serta
keberadaannya sebagai pemicu bagi gerakan kiai-santri untuk melawan
penjajah di kota Surabaya.
Kilasan sejarah
menyebutkan; setelah Belanda takluk ditangan tentara Jepang, maka
terjadi proses peralihan kekuasaan terhadap bumi Nusantara. Di mana,
Jepang telah melanjutkan proses menjajah dan menjarah, sekalipun pada
awalnya menggunakan pola-pola yang tidak keras sebagaimana dilakukan
oleh tentara Belanda. Pendekatan kooperatif ini sengaja dilakukan untuk
mencari simpati masyarakat Nusantara.
Namun,
dalam perkembangannya, pendekatan ini dianggap kurang memberikan
keuntungan kepada Jepang hingga akhirnya Jepang pada tahun 1942
melakukan proses ideologisasi terhadap penduduk lokal. Salah satu
bentuknya adalah penerapan tradisi Seikerei, yakni tradisi memberikan penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan pada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami) tepatnya setiap pukul 07.00 dengan membungkukkan badan.
Penerapan
tradisi ini memantik pembangkangan dari para kiai-santri di seluruh
Nusantara. Salah satu bentuk pembangkangan itu dilakukan oleh Kiai
Hasyim Asy’ari Jombang dan Kiai Mas Mansur Ndresmo Surabaya. Penyebutan
kedua tokoh ini penting dalam konteks tulisan ini setidaknya keduanya
sama-sama tokoh pesantren di satu sisi dan keduanya juga akhirnya di
penjara oleh tentara Jepang di Kalisosok Surabaya dalam satu sel di sisi
yang berbeda.
Siksaan demi siksaan diterima
oleh para pembangkang, termasuk dialami oleh Kiai Mas Mansur. Konon
siksaan dilakukan oleh tentara Jepang kepada Kiai Mas Mansur dengan
tidak memberikan makan selama enam bulan di sel penjara. Ini dilakukan
sebagai bentuk komitmen Kiai Mas Mansur kepada bangsa (baca:
Nasionalis). Dirinya meyakini bahwa tunduk kepada penjajah dengan
mengikuti tradisi Seikerei berarti meng-iyakan terhadap kehadiran
penjajah Jepang di negeri ini, apalagi dalam perspektif aqidah Islam
ketertundukan kepada selain Allah SWT adalah dosa besar, untuk tidak
mengatakan kufur.
Banyak tokoh-tokoh pesantren
yang mencoba merayu agar Kiai Mas Mansur sedikit bersikap lunak,
termasuk kiai-kiai se-Ndresmo Surabaya. Tapi, itulah tekad Kiai Mas
Mansur, sekalipun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Kiai Mas Mansur
selama di penjara oleh tentang Jepang, tapi dirinya tetap mengisi
rutinitas pengajian kitab kuning bersama para santri di pesantren yang
dia asuhnya, yang sekarang dikenal dengan sebutan pondok pesantren
Annajiyah.
Bahkan, Kiai Hasyim Asy’ari, teman
satu sel dengan Kiai Mas Mansur, ketika dijemput oleh putranya Kiai
Wahid Hasyim untuk pulang berkat lobi-lobi seluruh kiai pesantren
se-Jawa dan Madura, sempat terjadi dialog. Inti dialog itu adalah agar
Kiai Mas Mansur bersikap lunak dengan tentara Jepang dengan dialog
imajiner kurang lebih sebagaimana berikut:
Kiai Hasyim:
Kang Mas, saya berharap “sampean” bersikap lunak kepada tentara Jepang dengan mengikuti tradisi Seikerei.
Hal
ini penting demi keselamatan jiwa kang Mas, apalagi ada ayat al-Qur’an
yang menyebutkan bahwa kita diperbolehkan mengikuti prilaku kufur
–selama hati masih beriman-- yang dipaksakan dan mengancam jiwa kita
sebagaimana disebutkan dalam surat al-Nahl [27); 106.
Kiai Mas Mansur:
Kang
Hasyim, ini sudah pilihan saya. Kematian sampun ada garisnya
masing-masing. “Panjenengan” lebih baik keluar penjara dalam rangka
meneruskan pesantren yang telah dirintis, sekaligus meneruskan
perlawanan terhadap penjajahan Jepang dengan menggalang kekuatan rakyat
dan santri yang lebih besar. Biar aku di penjara saja, apalagi di
pesantren Ndresmo telah aku persiapkan generasi yang sudah siap
meneruskan kepengasuhan.
Keteguhan
Kiai Mas Mansur terus tidak berubah dan tidak menyerah kepada tentara
Jepang, sembari ia tetap istiqamah menggelorakan anti penjajah kepada
mereka yang menjenguknya. Inilah yang menjadi sebab pihak Jepang
mengambil jalan pintas untuk membunuh Kiai Mas Mansur, demi stabilitas
dan kepentingan Jepang. Dengan begitu, akhirnya Kiai Mas Mansur
benar-benar dibunuh di penjara oleh tentara Jepang dan dimakamkan di
makam para sesepuh pesantren Ndresmo Surabaya.
Belajar dari Kiai
Dari
kisah kiai-kiai pesantren, terkhusus dari Kiai Mas Mansur, setidaknya
ada dua pelajaran penting bagi generasi muda dalam menapaki jalan dalam
membumikan visi beragama dan berbangsa di masa-masa yang akan datang.
pertama, visi kebangsaan para kiai-kiai pesantren. Kecintaan kepada
bangsa adalah bagian dari perintah agama. Logika berpikir ini bermula
bahwa segala bentuk penjajahan mengakitkan munculnya kemudharatan bagi
masyarakat luas, termasuk tidak bebasnya seseorang untuk melaksanakan
ibadahnya sesuai dengan keyakinannya.
Untuk itu, dengan cinta kepada bangsa (hubbl al-wathan)
sejatinya kita berusaha untuk menyingkirkan segala bentuk kedhalimanan
yang berujung pada lahirnya kemudharatan kepada masyarakat. Memerangi
kedhaliman adalah perintah agama (iyyakuum wa al-dhulm, fainnahu dhulumatun yawm al-qiyamat),
sekalipun tidak harus menggunakan Islam sebagai ideologi dalam
bernegara sebagaimana menjadi impian sebagian kelompok tertentu.
Kedua,
visi kesalehan beragama para kiai pesantren. Bagi kalangan pesantren,
praktik-praktik keagamaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Kesungguhan yang dipraktikkan itu tidak saja dalam koteks praktis, tapi
juga teoritis keilmuan.
Artinya, para kiai pesantren
memiliki keteguhan total dalam beribadah baik secara vertikal
(ketuhanan) maupun horizontal (kemanusiaan). Tapi, sikap tawadhu’nya
dengan merasa belum sempurna mengantarkan mereka terus menggali
ilmu-ilmu keislaman sepanjang hayat, baik dibaca sendiri maupun
dibacakan di hadapan santri atau terus belajar kitab kuning kepada ulama
yang dipandang memiliki integritas kealiman.
Akhirnya,
kiai-kiai pesantren -yang telah mendahului kita dan terlibat langsung
dalam proses menuju kemerdekan- harus menjadi cermin bagi kita semua,
yang hanya menikmati damainya Indonesia saat ini. Tidak ada tujuan yang
diinginkan, kecuali semoga kelak kita disertakan bersama mereka dihari
kemudian, mengutip pesan keabadian Imam Shafi’i. Semoga.

0 comments:
Post a Comment