WELCOME

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Monday, August 12, 2019

MENGENAL NAHDLATUL ULAMA

MENGENAL NAHDLATUL ULAMA

MENGENAL NAHDLATUL ULAMA "Melestarikan Perjuangan Para Ulama dan Kyai"


Berdirinya NU tidak lepas dari peran penting dua orang tokoh besar yaitu KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah,. Pada sekitar tahun 1913 Pondok pesantren Tebu ireng diserng oleh tentara Belanda bangunan pondok dihancurkan berkeping – keping kitab – kitab agama dirampas dan kemudian dibakar dan dimusnahkan, kemudian pemerintah Kolonial mengumumkan bahwa Pondok Pesantren Tebu Ireng adalah Sarang pemberontok dan ekstrimis, Kepada Para santri KH Hasyim Asyari’ mengatakan “ Justru kejadian ini menambah semangat kita untuk berjuang menegakkan islam dan kemerdekaan yang Hakiki “

 Kejadian tersebut diketahui oleh seluruh pondok pesantren diseluruh pulau jawa dan Madura,maka berdatanganlah bantuan moril dan materiil yang tidak sedikit yang kemudian dapat dipergunakan untuk membangun kembali pondok pesantren yang telah hancur lumat, dalam waktu singkat sekitar 8 bulan pondok pesantren Tebu ireng telah pulih bahkan lebih megah.

Pada Tahun 1914 seorang pemuda bernama Wahab hasbullah kembali dari menuntut ilmu dari kotamakkah kemudian ia menikah denga putri seorang kyai dari Surabaya bernama Kyai Musa, ia kemudian menetap di kertopaten,kemudin selang beberapa lama iapun tertarik dengan perkembangan Sarekat Islam ( SI ) yang maju pesat untuk ikut bersama – sama berperan, kemudian bersama – sama dengan partisipasi para dermawan yang ada di Surabaya yang dipelopori oleh KH Abd Kahar berdirilah gedung bertingkatdi Surabaya ( Kampung Kawatan Gg. IV ) yang kemudian dikenl dengan Nahdlatul Wathan dan pada 1916 perguruan ini mendapat Rechtpersoon ( Pengakuan resmi berbadan hukum “ dengan susunan pengurus :

KH Abdul Kahar sebagai direktur,
KH Wahab Hasbullah sebagai Pemimpin Sekolah ( Ke – Ulama-an )
dan KH Mas Mansur diangkat sebagai Kepala sekolah, dibantu KH Ridwan Abdullah.

Pada perjalanannya KH Wahab Hasbullah memimpin Nahdlatul Wathan dengan seluruh kelompok islam secara umum baik yang berhaluan tradisionil ( Bermadzhab ) dan kelompok modernis ( Non Madzhab ).

Perlu diketahui bahwa mulai dasa warsa pertama di abad XX , timbul 2 kelompok gerakan islam yang pola pemikirannya tidak dapat dipersatukan yaitu kelompok timbul 2 kelompok gerakan islam yang pola pemikirannya tidak dapat dipersatukan yaitu kelompok islam modernis dan kelompok islam tradisionalis, kaum modernis pada pokoknya anti madzhab dan kelompok tradisionalis tetap mempertahankan madzhab, pada era selanjutnya,sering terjadi perdebatan pedebatan yang diakibatkan oleh perbedaan pemikiran diantara keduanya,

KH Wahab Hasbullah sering kali mendapat serangan – serangan dari kelompok modernis yang berada di SI maupun dari KH Mas Mansur itu sendiri, Meski tujuan dari kelompok ini adalah memperjuangkan rasa nasionalisme, serangan – serangan teramat sering di8lancarkan oleh kaum reformis modernis sehingga KH Wahab Hasbullah terpaksa melayaninya, mulai dari perdebatan itu aka terlihat jelas adanya perbedaan pandangan antara KH Mas Mansur dengan KH Wahab Hasbullah yang pada akhirnya KH Mas Mansur lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok modernis opada tahun 1921 hal ini berawal ketika KH Ahmad Dahlan sering datang ke Surabaya memberikan ceramah – ceramah,dan beliau berhasil menggaet KH Mas mansur untuk memasuki kelompok Muhammadiyyah yang berhaluan Modernis yang anti madzhab.

Dan perbedaan mencapai puncaknya pada tahun 1922 ,KH Mas Mansur secara jelas menyatakan bahwa ia berpisah dengan KH Wahab Hasbullah. Serangan demi serangan terus bermunculandari kelompok modernis dan akhirnya KH Wahab Hasbullah menyadari bahwa serangan – serangan tersebut tidak mungkin beliau hadapi sendiri,maka pada tahun 1924 KH Wahab Hasbullah mendirikan kursus “Masailud Diniyyah “ guna menambah pengetahuan bagi ulama – ulama muda yang mempertahankan faham ahlussunnah wal jamaah dengan tetap bermadzhab. Kegiatan kursus ini kemudian dipusatkan di madrasah Nahdlatul Wathon dengan insensitas pertemuan 3 kali seminggu, peserta diskursus ini tidaknya dari wilayah Jawa Timur tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat,

kemudian beliau memohon bantuan sahabat-sahabatnya untuk membantu,seperti KH Bisri SYansuri ( Jombang ) KH Abdul Halim ( Leuwi Munding Cirebon ) dan KH Mas Alwi Abdul Aziz dan KH Ridwan Abdullah dari Surabaya, KH Maksum dan KH kholil dari Lasem Rembang, sedangkan dari kelompok muda seperri KH wahab dan Abdulla Ubaid dari KawatanSurabaya, serta Hasan Nawawi juga dari Surabaya. Dan pada akhirnya kelompok diskursus itu merupakan kelompok yang kuat dan ampuh sebagai senjata untuk memerangi faham modernis, memang sepertinya mereka dipersiapkan untuk menepis serangan kelompok modernis, terutama perdebatan masalah khilafiyah, .

Tetapi KH Wahab agaknya masih kurang yakin terhadap keampuhan pertahanan maka pada tahun 1924 , beeliau mengusulkan terbentuknya organisasi ulama kepada KH Hasyim Asy’ari, berawal sari sinilah maka kemudian lahir organisasi ulama di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asyari. Sebelumnya KH Wahab Hasbullah terlibat dalam SI, Indronesische Studest Club, Nahdlatyul Wathon,Subanul Wathon,dan dalam diskursus itu tidak lepas dari tujuan utama memupuk rasa Nasionalisme, dan tekad itu,terbukti pada saat undangan Komite Hijaz diedarkan pada tanggal 31 Januari 1926, Maka setelah itu sepakat untuk mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama. ( NU )

adapun kepengurusan pad NU 1926 adalah sebaai berikut :
SYURIYAH :
Rais Akbar : KH Hasyim Asyari Jombang
Katib Rais : KH Abdul Wahab Hasbullah
Kertopaten MUSTAYAR : KH. Moh Zubair Gresik

TANFIDZIYAH : Ketua : KH Hasan Gipo Surabaya
Wakil Ketua : H Soleh Samil, Surabaya
Sekretaris : Moh Sodiq ( Sugeng ) Surabaya
Wakil sekretaris : H. Nawawi Surabaya
Bendahara : H. Muhammad Burhan Surabaya : H. Jafar Surabaya
KOMISARIS : K . Nahrowi Surabaya

Sedang pada tahap berikutnya disepakatilah lambang Nahdlatul Ulama sesuai dengan mimpi KH Ridwan Abdullah dari Jombang Jawa Timur. Selama Ini yang kita ketahui, NU berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 atau 14 tahun sesudah Muhammadiyah berdiri karena Muhammadiyah berdiri pada Tahun 1912. Tetapi, secara tradisi, budaya, cara keberagamaan NU sudah ada sejak berabad – abad yang lalu bersamaan dengan awal perkembangan Islam di Indonesia yang disebarkan oleh Walisongo.

Dalam mengembangkan dakwah Islam di Nusantara, para wali tersebut menggunakan cara – cara yang santun, pendekatan akhlaq, Uswah dan sangat menghormati semua tradisi masyarakat yang sudah ada / hadir di masyarakat. Namun demikian bukan berarti semua tradisi yang ada dianggap benar, melainkan secara perlahan – lahan dimasuki dan diganti dengan unsur – unsur Islam.

Sebagai bukti adalah beberapa tradisi budaya yang saat ini masih ada di kalangan Nahdhiyyin sebagai berikut :

1. Dalam masyarakat Syiwa – Budha ajaran Yoga tantra dari sekte Sakhta ada tradisi yang dinamakan Upacara Pancamakara / Ma – Lima / 5 M : Mamsya (daging), Matsya (ikan), Madya (Minuman keras), Maituna (bersetubuh), Mudra (semadi). Peserta upacara terdiri dari laki – laki dan perempuan membentuk lingkaran. Kemudian di tengahnya terdapat makanan, lauk pauk dan Miras. Nah, para wali kemudian mengubah upacara ini dengan tetap membentuk lingkaran tetapi makanan diganti dengan berbentuk makanan dan minuman yang halal serta tidak ada semadi tetapi diganti dengan sekian rapalan doa tahlil. Tradisi inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah kenduri. Istilah ini sendiri berasal dari bahasa persia yaitu “ Kandhuri” yang berarti Upacara. Di persia ada Upacara Kandhuri untuk memperingati Fatimatuzzahro.

2. Dulu ketika masyarakat beribadah namanya “Sembah Yang”. Sulit rasanya mengubah menjadi “Shalat”. Makanya diganti dengan kata Sembayang. Begitu juga kata Sanggar yang digunakan sebagai tempat sembahyang diganti dengan kata Langgar agar tidak kesulitan mengucapkan Mushalla. Dalam Masyarakat juga ada tradisi menahan makan dan minum yang disebut Upawasa. Kata Shoum tentu sulit diterima. Maka yang digunakan adalah puasa. Ada beberapa konsep pembinaan umat dan para alim ulama kita yang perlu kita pahami dan kita pedomani dalam membina umat Nahdlatul Ulama serta menumbuhkan dinamika perjuangan NU ke depan.

Konsep – konsep tersebut adalah :

1. Pengertian Mabadi Khoiru Ummah ( KH. Mahfudz Siddiq )
2. Pengertian panca Gerakan NU ( KH. Ali Ma’shum )
3. Pengertian Khittah NU 1926 ( KH. Akhmad Shiddiq )
4. Perkembangan dan Dinamika Perjuangan NU

Mabadi Khoiru Ummah
Mabadi khoiru Ummah adalah nilai – nilai keteladanan yang membentuk karakter warga NU melalui upaya pemahaman keagamaan NU yang bertumpu pada 5 (lima) sendi , yaitu : Al shidqu, Al Amanah, Al Adalah, Al Ta’awun, Al Istiqomah :

a Al Shidqu Artinya kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan di dalam menampilkan suatu masalah
b Al Shidqu Artinya dapat dipercaya, setia dan tepat janji
c Al Adalah Artinya sikap Adil
d Al Ta’awun Artinya tolong menolong, setia kawan dan gotong royong
e Al Istiqomah Artinya Keajekan atau konsisten, kesinambungan dan berkelanjutan Buah dari pemahaman keagamaan dan sikap kemasyarakatan membentuk tingkah laku dan nilai – nilai keteladanan NU yang dapat membedakan antara karakter NU dengan tingkah laku organisasi lain di luar NU.

Panca Gerakan NU Doktrin Panca Gerakan NU

merupakan konsep pembinaan umat dari KH Ali Ma’shum, untuk menumbuhkan pemahaman terhadap kesadaran warga Nahdliyyin tentang tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan. Konsep tersebut Intinya :
a. Al Tsiqoh Bi NU Setiap warga NU harus yakin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu – satunya tuntunan hidup yang benar
b. Al Ma’rifah Wa Al Istqon Bi NU Setiap warga NU harus benar-benar memberi bobot ilmiah tentang NU dengan sungguh-sungguh
c. Al Amal Bi Al Ta’lim Bi NU Setiap warga NU harus mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU
d. AL Jihad Fi Sabil NU Setiap warga NU harus memperjuangkan NU agar tetap lestari dan terus berkembang pesat
e. Al Shabru Fi Sabil NU Setiap waraga NU harus bersabar dalam melakukan tugas, menghadapi rintangan kegagalanmaupun sabar terhadap rayuan – rayuan atau paksaan paksaan untuk meninggalkan NU

Khittah 1926

Khittah adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus tercermin dalam tingkah laku baik perorangan maupun organisasi atau dalm setiap proses pengambilan keputusan. Khittah adalah faham Islam Aswaja yang digali dari sejarah perjalanan NU dari masa kemasa dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Ada 9 ( sembilan ) butir isi Khittah Nahdliyyin

1. Mengenal sejarah berdirinya NU
2. Khittah sebagi landasan perjuangan NU
3. Paham Keagamaan NU
4. Sikap keagamaan NU
5. Perilaku dan cirri khas NU
6. Ikhtiar melakukan program garapan NU
7. Ulama sebagi pemegang pimpinan tertinggi NU
8. Keberadaan NU sebagai organisasi kemasyarakatn
9. Semangat ( ghiroh ) dalam mengamalkan khittah NU

Keberhasilan cita – cita perjuangan NU adalah tergantung dari pengamalan khittah para pimpinan dan warganya dalam meresapi, menghayati, gdan mengamalkan butir – butir khittah NU yang merupakan landasan perjuangan NU. Kembali ke khittah NU berarti kembali ke garis – garis perjuangan NU, embali ke organisasi jamiyyah Diniyyah Islamiyyah, meninggalkan kegiatan politik praktis balik menekuni kembali bidang agama, social, kemasyarakatan untuk berkhidmah kepada agama, negara dan bangsa.

Perkembangan dan Dinamika Perjuangan NU 

NU sebagai wadah perjuangan adalah alat untuk mempertahankan diri, memelihara, melestarikan dan mengamalkan ajaran islam ala ahlussunnah wal jamaah menuju rahmatan lil alamin.

Dinamika perjuangan NU adalah berkhidmat demi agama, bangsa dan Negara tidak pernah mengalami surut sejak berdirinya tahun 1926 hingga sekarang, hal tersebut dapat dilihat dalam perkembangan dan dinamika tersebut dibawah ini ;
 1918 : Mendirikan Nahdlatuttujjar ( Penggalangan Ekonomi )
 1922 : Mendirikan Taswirul Afkar ( Penggalangan budaya )
 1924 : Mendirikan Nahdlatul wathon ( Penggalangan bangsa )
 1926 : Mendirikan NU ( Nahdlatul Ulama/Kebangkitan Ulama ) diproklamirkan di Muktamar NU ke -1 di Surabaya, dan mengangkat Roisul Akbar Hadlatus Syaikh Hasyim Asy’ari
 1945 : Turut aktif dalam persiapan Kemerdekaan RI dan turut membidani lahirnya partai Masyumi
 1952 : NU Keluar dari Masyumi ( karena tidak ada Kecocokan )
 1954 : NU berubah menjadi partai politik ( Hasil Muktamar ke -20 )
 1955 : NU mengikuti pemilu pertam di Indonesia zaman orde lama
 1971 : NU mengikuti pemilu ke 2 zaman Orde baru
 1973 : NU diharuskan fusi meleburkan diri ke PPP Tahun
 1984 : NU menyatakan keluar dari PPP dan kembali ke khittah
 1926 ( hasil muktamar NU ke 27 di Situbondo Jatim)
 1998 : NU memfasilitasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB ) di era reformasi, jamiyyah NU tetap netral/khittah
 1999 : PKB partai yang difasilitasi PBNU mengikuti pemilu pertama di era reformasi. KH Abdurahman Wachid ( Gus Dur ) mantan Ketua PBNU terpilih sebagi presiden RI ke IV. NU mencanangkan kebangkitan ke II di Muktamar NU ke-30 di Lirboyo Kediri Jatim

Demikian sekilas perkembangan dan dinamika perjuangan NU yang tanpa mengenal berhenti patah dan tumbuh hilang berganti. Tua tua keladi semakin tua semakin jadi, tua tua kelapa semakin tua semakin berjasa.

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ASWAJA ALA NU 


      Sejarah ASWAJA Sewaktu Rasulullah masih hidup umat Islam merupakan satu barisan yang kuat, satu aqidah, satu wawasan dan berada dibawah bimbingan dari Rasul, begitu pula pada masa sahabat empat, pada masa ini umat Islam mulai tidak seutuh pada masa Nabi. 

Menurut para ahli sejarah mulai adanya firqoh yaitu mulai tahun 30 H, atau pada masa akhir tahun kekuasaan Usman bin Affan. Rasulullah bersabda : “Sungguh beriman lah engkau kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, qodar baik dan buruknya adalah dari Allah Taala”. 

Hadist tersebut menjelaskan bahwa diakhir zaman umat Islam akn pecah menjadi firqoh firqoh, satu dengan yang lain sulit didamaikan apalagi dipersatukan. Hal ini sudah menjadi fakta yang telah tercantum dalm kitab kitab ushuluddin. Firqoh firqoh itu ada 73 golongan yaitu; Syiah menjadi 22 aliran, Khawarij menjadi 20 aliran, Murjiah menjadi 5 aliran, Mu’tazilah menjadi 20 aliran, Najjariyah menjadi 3 aliran, Jabbariyah tetap satu golongan, Musabikhah satu aliran dan Alu Sunah wal Jamaah satu aliran. 

Istilah Ahlussunah wal Jama’ah terdiri dari tiga kata, yaitu ahl, as-sunah dan aljama’ah. 

1. Dalam Kamus al-munjid fil Lughah wal A’alam kata ahl mnegandung dua makna. Selain bermakna keluarga dan kerabat, ahl juga dapat berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab. 

2. Menurut istilah syara’ as-sunah ialah sebutan bagi jalan yang disukai dan dijalani dalam agama, sebagaimana dipraktikkan Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan ataupun persetujuan Nabi Muhammad SAW, 

3. sedangkan al-jama’ah menurut syara’ ialah kelompok mayoritas dalam golongan islam. 

Dari pengertian etimologis di atas, maka makna Ahlussunnah wal Jama’ah dalam sejarah islam adalah golongan terbesar umat islam yang mengikuti system pemahaman islam, baik dalam tauhid dan fiqih dengan mengutamakan dalil AlQur’an dan hadist daripada dalil akal. 

Untuk menguatkan pengertian diatas terdapat bebarapa hadits yang diantaranya diriwayatkan oleh imam ibnu majah yang artinya “menyampaikan Rasulullah SAW akan pecah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat satu golongan, dan sisanya akan hancur, ditanya siapakah yang selamat Rasulullah? Beliau menjawab Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau ditanya lagi apa maksud dari Ahlussunnah wal Jama’ah? Beliau menjawab; golongan yang mengikuti sunahku dan sunah shahabatku”. 

Dalam hadist lain juga disebutkan “berpegang teguhlah kamu semua dengan sunah mu dan sunah khulafaur rasyidin yang semuanya memnperoleh petunjuk sesudahkau” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)



PRINSIP-PRINSIP AJARAN MADZHAB DALAM NU 

a. Ajaran Ahlus Sunnah Wal jama’ah di Bidang Aqidah Golongan ahlussunah wal jama’ah dalam bidang akidah mengikuti rumusan imam Al-Asya’ari yang meliputi enam perkara yang lebih dikenal degan rukun iman. Beberapa contoh rumusan akidah Ahlus sunnah wal jama’ah adalah sebagai berikut : 

  1.Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, sifat wajib adalah sifat-sifat yang harus ada pada Allah SWT yang berjumlah 20, sifat mustahil adalah sifat-sifat yang tidak boleh ada pada Allah yang berjumlah 20, dan sifat jaiz bagi Allah yang berjumlah 1 (satu) yaitu Allah itu boleh menciptakan sesuatu atau tidak. 

   2.Ahli kubur dapat memperoleh manfaat atas amal sholeh yang dihadiahkan orang mukmin yang masih hidup kepadanya seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan lain-lain. 

   3.Orang mukmin yang berdosa dan mati, nasibnya diakhirat terserah Allah, apakah akan diampuni atau mendapat siksa dahulu neraka yang bersifat tidak kekal. 

  4.Rezeki, jodoh, ajal, semuanya telah ditetapkan pada zaman azali. Perbuatan manusia telah ditakdirkan oleh Allah, tetapi manusia wajib berikhtiar untuk memilih amalnya yang baik. 

   5.Surga dan neraka serta penduduknya akan kekal selama-lamanya. Dan masih banyak prinsip-prinsip pokok akidah yang lain. 


b. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Bidang Syari’ah Dalam bidang syari’ah (fiqih) kaum Ahlus sunnah Wal jama’ah berpedoman pada empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). Halhal yang perlu diketahui adalah : 

1. Membaca sholawat berarti menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. 
2. Menyentuh dan membawa Al-Qur’an harus suci dari hadats kecil dan besar. 
3. Membaca tahlil, sholawat, surat yasin disunnahkan. 

    a. Tahlil berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan artinya membaca kalimat la ilaha illa llallah. Dimasyarakat NU sendiri berkembang pemahaman bahwa setiap pertemuan yang didalamnya dibaca kalimat itu secara bersama-sama dikhususkan untuk almarhum/almarhumah disebut majelis tahlil. Sebagaimana yang ercantum dalam hadits : Yasin adalah jantung Al-Qur’an, tidak membacanya seseorang yang mencari Ridho Allah dan pahala akhirat melainkan Allah mengampuninya, dan bacakanlah Yasin atas orang-orang mati kalian semua. (HR. Imam Ahmad) 

b. Dibaiyah adalah suatu acara pembacaan kitab Diba’, kitab yang isinya biografi, sejarah hidup dan kehidupan Rasulullah. Landasan dianjurkannya dibaiyah adalah dari hadits berikut : “Tersebut dalam sebuah atsar, Rasulullah pernah bersabda:”Siapa membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama artinyamenghidupkannya kembali seolah-olah dia sedang mengunjunginya, siapa yang mengunjunginya Allah akan memberinya surga”. 

c. Membaca do’a qunut pada sholat shubuh disunnahkan. Dalam kitab Mughnil Muhtaj juz awal terdapat hadits berikut: Diriwayatkan dari imam Abu Hurairoh R. A , berkata : “Rosulullah SAW ketika bangun dari rukuk pada Roka’at yang kedua dalam sholat subuh beliau mengangkat kedua tanganNya dan membaca doa berikut: Allahummah ……” 

d. Ziarah kubur hukumnya sunnah bila bertujuan untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat dan untuk mendo’akan orang Islam. Seperti diterangkan dalam hadits berikut: “berziaroh ke kuburlah kamu semua karena sesungguhnya dapat mengingatkan Akhirat. Dan Nabi Muhammad SAW telah berziarah ke kuburanyya sahabat-sahabat yang mati syahid dalam perang uhud dan kekuburan Ahlil Baqi’ kemudian beliau mengucapkan salam dan mendoakan mereka” (HR. Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Majah) 

e. Mentalqin mayit disunahkan, adapun mentalqin mayit itu ialah mendiktekan si mayit yang baru saja dimakamkan untuk menirukan katakata tertentu dari si penuntun. Karena sesungguhnya si mayit bisa mendengar suara sandal orang-orang yang pulang sehabis mengantar jenazahnya, sebagaimana keterangan hadits berikut: Artinya : “seorang hamba ketika telah diletakkan kedalam kuburnya, dan ketika teman-temannya telah meninggalkannya sesungguhnya dia bisa mendengar suara sandal teman-temannya teersebut” (HR. Imam Bukhori muslim, Abu Dawud, Nasa’i) 

f. Sholat Tarawih 20 Roka’at, karena sesungguhnya Rasulullah SAW telah melakukan sholat tarawih sebanyak 20 Roka’at.

g. Peringatan 7 hari/ 40 hari orang meninggal atau Khaul Sudah jadi tradisi orang NU, kalau ada keluarga yang meninggal, malam harinya ada tamu-tamu yang bersilaturrahmi, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka ikut belasungkawa atas segala yang barusan menimpa, sambil mendoakan orang yang meninggal ataupun yang ditinggalkan juga ingin mengambil iktibar bahwa kita segera akan menyusul dikemudian hari, tradisi tersebut biasanya setelah mencapai 40 hari, 100 hari, 100 hari, setahun dan 1000 hari. Hadits yang dapat dibuat pegangan dalam masalah ini ialah: Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan(sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata : dari sahabat Ubaid ibn Umair, dia berkata: seorang mukmin dan seorang munafik sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi. 

h. Istighotsah Asal kata Istighotsah adalah Al- Ghauts yang berarti meminta pertolongan Telah menjadi tradisi di kalangan para ulama Salaf dan Khalaf bahwa ketika mereka menghadapi kesulitan atau ada keperluan mereka mendatangi kuburan orang-orang Sholeh untuk berdoa disana dan mengambil berkahnya dan setelahnya permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Dalam kitab ‘Uddahal-Hishn al-Hashin disebutkan; “Diantara tempat dikabulkannya do’a adalah kuburan orang-orang Sholeh”


Ajaran Ahlussunnah Wal jama’ah di Bidang Akhlaq Kaum Ahlus sunnah Wal Jama’ah dalam bidang akhlaq atau tasawuf mengikuti imam Abu Qasim Al-Junaidi dan Imam Ghozali berkata “bahwa tujuan memperbaiki akhlaq itu adalah untuk membersihkan hati dari kotoran hawa nafsu dan marah, sehingga hati menjadi suci bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan”. Menurut imam Junaidim ada tiga tingkat dasar dalam menempuh tarekat : 1. Takhali, yaitu mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela baik lahir maupun batin. 2. Tahali, yaitu mengisi diri dan membiasakan diri dengan sifatsifat terpuji. 3. Tajalli, yaitu mengamalkan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT

Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Bidang Sosial Kemasyarakatan dan Politik

Dalam bidang sosial kemasyarakatan dan politik, kaum Ahlus Sunnah Wal jama’ah mampunyai prinsip dan ciri khas yang berbeda dengan golongan lain. Dalam beberapa hal ada persamaan pendapat dan dalam hal lainnya ada perbedannya. Hal ini tampak jelas dalam beberapa masalah, antara lain : 

1. Masalah Khilafiyah Dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan wajib ditegakkan sebagai pewaris kepemimpinan Rasulullah SAW. namun bentuk kongkritnya diserahkan kepada umatnya sendiri, sebab dalam mengurus urusan dunia, ajaran Islam menyerahkannya pada umat dengan jalan bermusyawarah untuk memperoleh hasil yang terbaik dan bermanfaat. 

Allah berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman Taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-nya dan ulil Amri dari kamu sekalian” (Qs. An-Nisa’ : 59) Yang dimaksud ulil amri adalah khalifah penguasa yang kepemimpinannya wajib diikuti oleh rakyatnya, kewajiban mentaati disini dengan syarat pemerintahan harus dijalankan atas dasar prinsip kebenaran dan berlaku adil. 

2. Masalah Persaudaraan dan Perbedaan Pendapat Pendirian Ahlussunnah Wal jama’ah bahwa semua muslim adalah bersaudara dan jika, terjadi perbedaan pendapat (perselisihan) diusahakan “islah” (berdamai), menurut prosedur yang telah ditetapkan. Jika terjadi perselisihan dan kesalahan hasur dicari jalan keluarnya dan diperbaiki menurut tata cara yang disepakati. 

3. Masalah Dosa Perbuatan dosa adalah perbuatan yang dilakukan tidak berdasarkan perintah agama dan bertentangan dengan ajaran agama ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendirian bahwa setiap orang yang menyekini kebenaran syahadatain. Betapa besar dosanya, dia tetap dianggap sebagai muslim. Agar supaya kita tidak terjerumus dalam perbuatan dosa baik kecil maupun besar, maka perlu menyadari akibat perbuatan dosa yang kita lakukan. Dengan demikian kita dapat mengendalikan hawa nafsu dan berpikir lebih jauh setiap tindakan yang akan dilakukan dan akibatnya.

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
Ketua
David Bell
Ketua
Eve Stinger
Ketua
Will Peters
Ketua

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Gedung MWC NU Patimuan

Jl. Sawunggalih Cinyawang, Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia 53264

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

-