Monday, August 12, 2019

MENGENAL NAHDLATUL ULAMA

MENGENAL NAHDLATUL ULAMA "Melestarikan Perjuangan Para Ulama dan Kyai"


Berdirinya NU tidak lepas dari peran penting dua orang tokoh besar yaitu KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah,. Pada sekitar tahun 1913 Pondok pesantren Tebu ireng diserng oleh tentara Belanda bangunan pondok dihancurkan berkeping – keping kitab – kitab agama dirampas dan kemudian dibakar dan dimusnahkan, kemudian pemerintah Kolonial mengumumkan bahwa Pondok Pesantren Tebu Ireng adalah Sarang pemberontok dan ekstrimis, Kepada Para santri KH Hasyim Asyari’ mengatakan “ Justru kejadian ini menambah semangat kita untuk berjuang menegakkan islam dan kemerdekaan yang Hakiki “

 Kejadian tersebut diketahui oleh seluruh pondok pesantren diseluruh pulau jawa dan Madura,maka berdatanganlah bantuan moril dan materiil yang tidak sedikit yang kemudian dapat dipergunakan untuk membangun kembali pondok pesantren yang telah hancur lumat, dalam waktu singkat sekitar 8 bulan pondok pesantren Tebu ireng telah pulih bahkan lebih megah.

Pada Tahun 1914 seorang pemuda bernama Wahab hasbullah kembali dari menuntut ilmu dari kotamakkah kemudian ia menikah denga putri seorang kyai dari Surabaya bernama Kyai Musa, ia kemudian menetap di kertopaten,kemudin selang beberapa lama iapun tertarik dengan perkembangan Sarekat Islam ( SI ) yang maju pesat untuk ikut bersama – sama berperan, kemudian bersama – sama dengan partisipasi para dermawan yang ada di Surabaya yang dipelopori oleh KH Abd Kahar berdirilah gedung bertingkatdi Surabaya ( Kampung Kawatan Gg. IV ) yang kemudian dikenl dengan Nahdlatul Wathan dan pada 1916 perguruan ini mendapat Rechtpersoon ( Pengakuan resmi berbadan hukum “ dengan susunan pengurus :

KH Abdul Kahar sebagai direktur,
KH Wahab Hasbullah sebagai Pemimpin Sekolah ( Ke – Ulama-an )
dan KH Mas Mansur diangkat sebagai Kepala sekolah, dibantu KH Ridwan Abdullah.

Pada perjalanannya KH Wahab Hasbullah memimpin Nahdlatul Wathan dengan seluruh kelompok islam secara umum baik yang berhaluan tradisionil ( Bermadzhab ) dan kelompok modernis ( Non Madzhab ).

Perlu diketahui bahwa mulai dasa warsa pertama di abad XX , timbul 2 kelompok gerakan islam yang pola pemikirannya tidak dapat dipersatukan yaitu kelompok timbul 2 kelompok gerakan islam yang pola pemikirannya tidak dapat dipersatukan yaitu kelompok islam modernis dan kelompok islam tradisionalis, kaum modernis pada pokoknya anti madzhab dan kelompok tradisionalis tetap mempertahankan madzhab, pada era selanjutnya,sering terjadi perdebatan pedebatan yang diakibatkan oleh perbedaan pemikiran diantara keduanya,

KH Wahab Hasbullah sering kali mendapat serangan – serangan dari kelompok modernis yang berada di SI maupun dari KH Mas Mansur itu sendiri, Meski tujuan dari kelompok ini adalah memperjuangkan rasa nasionalisme, serangan – serangan teramat sering di8lancarkan oleh kaum reformis modernis sehingga KH Wahab Hasbullah terpaksa melayaninya, mulai dari perdebatan itu aka terlihat jelas adanya perbedaan pandangan antara KH Mas Mansur dengan KH Wahab Hasbullah yang pada akhirnya KH Mas Mansur lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok modernis opada tahun 1921 hal ini berawal ketika KH Ahmad Dahlan sering datang ke Surabaya memberikan ceramah – ceramah,dan beliau berhasil menggaet KH Mas mansur untuk memasuki kelompok Muhammadiyyah yang berhaluan Modernis yang anti madzhab.

Dan perbedaan mencapai puncaknya pada tahun 1922 ,KH Mas Mansur secara jelas menyatakan bahwa ia berpisah dengan KH Wahab Hasbullah. Serangan demi serangan terus bermunculandari kelompok modernis dan akhirnya KH Wahab Hasbullah menyadari bahwa serangan – serangan tersebut tidak mungkin beliau hadapi sendiri,maka pada tahun 1924 KH Wahab Hasbullah mendirikan kursus “Masailud Diniyyah “ guna menambah pengetahuan bagi ulama – ulama muda yang mempertahankan faham ahlussunnah wal jamaah dengan tetap bermadzhab. Kegiatan kursus ini kemudian dipusatkan di madrasah Nahdlatul Wathon dengan insensitas pertemuan 3 kali seminggu, peserta diskursus ini tidaknya dari wilayah Jawa Timur tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat,

kemudian beliau memohon bantuan sahabat-sahabatnya untuk membantu,seperti KH Bisri SYansuri ( Jombang ) KH Abdul Halim ( Leuwi Munding Cirebon ) dan KH Mas Alwi Abdul Aziz dan KH Ridwan Abdullah dari Surabaya, KH Maksum dan KH kholil dari Lasem Rembang, sedangkan dari kelompok muda seperri KH wahab dan Abdulla Ubaid dari KawatanSurabaya, serta Hasan Nawawi juga dari Surabaya. Dan pada akhirnya kelompok diskursus itu merupakan kelompok yang kuat dan ampuh sebagai senjata untuk memerangi faham modernis, memang sepertinya mereka dipersiapkan untuk menepis serangan kelompok modernis, terutama perdebatan masalah khilafiyah, .

Tetapi KH Wahab agaknya masih kurang yakin terhadap keampuhan pertahanan maka pada tahun 1924 , beeliau mengusulkan terbentuknya organisasi ulama kepada KH Hasyim Asy’ari, berawal sari sinilah maka kemudian lahir organisasi ulama di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asyari. Sebelumnya KH Wahab Hasbullah terlibat dalam SI, Indronesische Studest Club, Nahdlatyul Wathon,Subanul Wathon,dan dalam diskursus itu tidak lepas dari tujuan utama memupuk rasa Nasionalisme, dan tekad itu,terbukti pada saat undangan Komite Hijaz diedarkan pada tanggal 31 Januari 1926, Maka setelah itu sepakat untuk mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama. ( NU )

adapun kepengurusan pad NU 1926 adalah sebaai berikut :
SYURIYAH :
Rais Akbar : KH Hasyim Asyari Jombang
Katib Rais : KH Abdul Wahab Hasbullah
Kertopaten MUSTAYAR : KH. Moh Zubair Gresik

TANFIDZIYAH : Ketua : KH Hasan Gipo Surabaya
Wakil Ketua : H Soleh Samil, Surabaya
Sekretaris : Moh Sodiq ( Sugeng ) Surabaya
Wakil sekretaris : H. Nawawi Surabaya
Bendahara : H. Muhammad Burhan Surabaya : H. Jafar Surabaya
KOMISARIS : K . Nahrowi Surabaya

Sedang pada tahap berikutnya disepakatilah lambang Nahdlatul Ulama sesuai dengan mimpi KH Ridwan Abdullah dari Jombang Jawa Timur. Selama Ini yang kita ketahui, NU berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 atau 14 tahun sesudah Muhammadiyah berdiri karena Muhammadiyah berdiri pada Tahun 1912. Tetapi, secara tradisi, budaya, cara keberagamaan NU sudah ada sejak berabad – abad yang lalu bersamaan dengan awal perkembangan Islam di Indonesia yang disebarkan oleh Walisongo.

Dalam mengembangkan dakwah Islam di Nusantara, para wali tersebut menggunakan cara – cara yang santun, pendekatan akhlaq, Uswah dan sangat menghormati semua tradisi masyarakat yang sudah ada / hadir di masyarakat. Namun demikian bukan berarti semua tradisi yang ada dianggap benar, melainkan secara perlahan – lahan dimasuki dan diganti dengan unsur – unsur Islam.

Sebagai bukti adalah beberapa tradisi budaya yang saat ini masih ada di kalangan Nahdhiyyin sebagai berikut :

1. Dalam masyarakat Syiwa – Budha ajaran Yoga tantra dari sekte Sakhta ada tradisi yang dinamakan Upacara Pancamakara / Ma – Lima / 5 M : Mamsya (daging), Matsya (ikan), Madya (Minuman keras), Maituna (bersetubuh), Mudra (semadi). Peserta upacara terdiri dari laki – laki dan perempuan membentuk lingkaran. Kemudian di tengahnya terdapat makanan, lauk pauk dan Miras. Nah, para wali kemudian mengubah upacara ini dengan tetap membentuk lingkaran tetapi makanan diganti dengan berbentuk makanan dan minuman yang halal serta tidak ada semadi tetapi diganti dengan sekian rapalan doa tahlil. Tradisi inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah kenduri. Istilah ini sendiri berasal dari bahasa persia yaitu “ Kandhuri” yang berarti Upacara. Di persia ada Upacara Kandhuri untuk memperingati Fatimatuzzahro.

2. Dulu ketika masyarakat beribadah namanya “Sembah Yang”. Sulit rasanya mengubah menjadi “Shalat”. Makanya diganti dengan kata Sembayang. Begitu juga kata Sanggar yang digunakan sebagai tempat sembahyang diganti dengan kata Langgar agar tidak kesulitan mengucapkan Mushalla. Dalam Masyarakat juga ada tradisi menahan makan dan minum yang disebut Upawasa. Kata Shoum tentu sulit diterima. Maka yang digunakan adalah puasa. Ada beberapa konsep pembinaan umat dan para alim ulama kita yang perlu kita pahami dan kita pedomani dalam membina umat Nahdlatul Ulama serta menumbuhkan dinamika perjuangan NU ke depan.

Konsep – konsep tersebut adalah :

1. Pengertian Mabadi Khoiru Ummah ( KH. Mahfudz Siddiq )
2. Pengertian panca Gerakan NU ( KH. Ali Ma’shum )
3. Pengertian Khittah NU 1926 ( KH. Akhmad Shiddiq )
4. Perkembangan dan Dinamika Perjuangan NU

Mabadi Khoiru Ummah
Mabadi khoiru Ummah adalah nilai – nilai keteladanan yang membentuk karakter warga NU melalui upaya pemahaman keagamaan NU yang bertumpu pada 5 (lima) sendi , yaitu : Al shidqu, Al Amanah, Al Adalah, Al Ta’awun, Al Istiqomah :

a Al Shidqu Artinya kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan di dalam menampilkan suatu masalah
b Al Shidqu Artinya dapat dipercaya, setia dan tepat janji
c Al Adalah Artinya sikap Adil
d Al Ta’awun Artinya tolong menolong, setia kawan dan gotong royong
e Al Istiqomah Artinya Keajekan atau konsisten, kesinambungan dan berkelanjutan Buah dari pemahaman keagamaan dan sikap kemasyarakatan membentuk tingkah laku dan nilai – nilai keteladanan NU yang dapat membedakan antara karakter NU dengan tingkah laku organisasi lain di luar NU.

Panca Gerakan NU Doktrin Panca Gerakan NU

merupakan konsep pembinaan umat dari KH Ali Ma’shum, untuk menumbuhkan pemahaman terhadap kesadaran warga Nahdliyyin tentang tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan. Konsep tersebut Intinya :
a. Al Tsiqoh Bi NU Setiap warga NU harus yakin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu – satunya tuntunan hidup yang benar
b. Al Ma’rifah Wa Al Istqon Bi NU Setiap warga NU harus benar-benar memberi bobot ilmiah tentang NU dengan sungguh-sungguh
c. Al Amal Bi Al Ta’lim Bi NU Setiap warga NU harus mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU
d. AL Jihad Fi Sabil NU Setiap warga NU harus memperjuangkan NU agar tetap lestari dan terus berkembang pesat
e. Al Shabru Fi Sabil NU Setiap waraga NU harus bersabar dalam melakukan tugas, menghadapi rintangan kegagalanmaupun sabar terhadap rayuan – rayuan atau paksaan paksaan untuk meninggalkan NU

Khittah 1926

Khittah adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus tercermin dalam tingkah laku baik perorangan maupun organisasi atau dalm setiap proses pengambilan keputusan. Khittah adalah faham Islam Aswaja yang digali dari sejarah perjalanan NU dari masa kemasa dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Ada 9 ( sembilan ) butir isi Khittah Nahdliyyin

1. Mengenal sejarah berdirinya NU
2. Khittah sebagi landasan perjuangan NU
3. Paham Keagamaan NU
4. Sikap keagamaan NU
5. Perilaku dan cirri khas NU
6. Ikhtiar melakukan program garapan NU
7. Ulama sebagi pemegang pimpinan tertinggi NU
8. Keberadaan NU sebagai organisasi kemasyarakatn
9. Semangat ( ghiroh ) dalam mengamalkan khittah NU

Keberhasilan cita – cita perjuangan NU adalah tergantung dari pengamalan khittah para pimpinan dan warganya dalam meresapi, menghayati, gdan mengamalkan butir – butir khittah NU yang merupakan landasan perjuangan NU. Kembali ke khittah NU berarti kembali ke garis – garis perjuangan NU, embali ke organisasi jamiyyah Diniyyah Islamiyyah, meninggalkan kegiatan politik praktis balik menekuni kembali bidang agama, social, kemasyarakatan untuk berkhidmah kepada agama, negara dan bangsa.

Perkembangan dan Dinamika Perjuangan NU 

NU sebagai wadah perjuangan adalah alat untuk mempertahankan diri, memelihara, melestarikan dan mengamalkan ajaran islam ala ahlussunnah wal jamaah menuju rahmatan lil alamin.

Dinamika perjuangan NU adalah berkhidmat demi agama, bangsa dan Negara tidak pernah mengalami surut sejak berdirinya tahun 1926 hingga sekarang, hal tersebut dapat dilihat dalam perkembangan dan dinamika tersebut dibawah ini ;
 1918 : Mendirikan Nahdlatuttujjar ( Penggalangan Ekonomi )
 1922 : Mendirikan Taswirul Afkar ( Penggalangan budaya )
 1924 : Mendirikan Nahdlatul wathon ( Penggalangan bangsa )
 1926 : Mendirikan NU ( Nahdlatul Ulama/Kebangkitan Ulama ) diproklamirkan di Muktamar NU ke -1 di Surabaya, dan mengangkat Roisul Akbar Hadlatus Syaikh Hasyim Asy’ari
 1945 : Turut aktif dalam persiapan Kemerdekaan RI dan turut membidani lahirnya partai Masyumi
 1952 : NU Keluar dari Masyumi ( karena tidak ada Kecocokan )
 1954 : NU berubah menjadi partai politik ( Hasil Muktamar ke -20 )
 1955 : NU mengikuti pemilu pertam di Indonesia zaman orde lama
 1971 : NU mengikuti pemilu ke 2 zaman Orde baru
 1973 : NU diharuskan fusi meleburkan diri ke PPP Tahun
 1984 : NU menyatakan keluar dari PPP dan kembali ke khittah
 1926 ( hasil muktamar NU ke 27 di Situbondo Jatim)
 1998 : NU memfasilitasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB ) di era reformasi, jamiyyah NU tetap netral/khittah
 1999 : PKB partai yang difasilitasi PBNU mengikuti pemilu pertama di era reformasi. KH Abdurahman Wachid ( Gus Dur ) mantan Ketua PBNU terpilih sebagi presiden RI ke IV. NU mencanangkan kebangkitan ke II di Muktamar NU ke-30 di Lirboyo Kediri Jatim

Demikian sekilas perkembangan dan dinamika perjuangan NU yang tanpa mengenal berhenti patah dan tumbuh hilang berganti. Tua tua keladi semakin tua semakin jadi, tua tua kelapa semakin tua semakin berjasa.

0 comments:

Post a Comment

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Gedung MWC NU Patimuan

Jl. Sawunggalih Cinyawang, Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia 53264

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

-