LANDASAN ORGANISASI
![]() |
| Doc Pelantikan 2017 |
1.
Ukhuwwah
Sebuah gerakan mengandalkan sebuah
kebersamaan, karena itu perlu diikat dengan ukhuwah (persaudaraan) atau
solidaritas (perasaan setia kawan) yang kuat (al urwah al-wutsqo)
sebagai perekat gerakan. Adapun gerakan ukhuwah IPNU-IPPNU meliputi:
a)
Ukhuwwah Nahdliyyah
Sebagai gerakan yang berbasis NU ukhuwah
nahdliyah harus menjadi prinsip utama sebelum melangkah ke ukhuwah yang lain.
Ini bukan untuk memupuk sektarianisme, melainkan sebaliknya sebagai pengokoh
ukhuwah yang lain, sebab hanya kaum nahdiyin yang mempunyai sistem pemahaman
keagamaan yang mendalam dan bercorak sufistik yang moderat dan selalu menghargai
perbedaan serta gigih menjaga kemajemukan budaya, tradisi, kepercayaan dan
agama yang ada.
Kader IPNU-IPPNU yang mengabaikan ukhuwah
nahdiyah adalah sebuah penyimpangan. Sebab ukhuwah tanpa dasar aqidah yang kuat
akan mudah pudar karena tanpa dasar dan sering dicurangi dan dibelokkan untuk
kepentingan pribadi. Ukhuwah nahdliyah berperan sebagai landasan ukhuwah yang
lain. Karena ukhuwah bukanlah tanggapan yang bersifat serta merta, melainkan
sebuah keyakinan, penghayatan, dan pandangan yang utuh serta matang yang secara
terus menerus perlu dikuatkan.
b)
Ukhuwwah Islamiyyah
Ukhuwah Islamiyah mempunyai ruang lingkup
lebih luas yang melintasi aliran dan madzhab dalam Islam. Oleh sebab itu
ukhuwah ini harus dilandasi dengan kejujuran, cinta kasih, dan rasa saling
percaya. Tanpa landasan tersebut ukhuwah islamiyah sering diselewengkan oleh
kelompok tertentu untuk menguasai yang lain. Relasi semacam itu harus ditolak,
sehingga harus dikembangkan ukhuwah islamiyah yang jujur dan amanah serta adil.
Ukhuwah Islamiyah dijalankan untuk
kesejahteraan umat Islam serta tidak diarahkan untuk menggangu ketentraman
agama atau pihak yang lain. Dengan ukhuwah Islamiyah yang adil itu umat Islam
Indonesia dan seluruh dunia bisa saling mengembangkan, menghormati, melindungi
serta membela dari gangguan kelompok lain yang membahayakan keberadaan iman,
budaya dan masyarakat Islam secara keseluruhan.
c)
Ukhuwwah Wathaniyyah
Sebagai organisasi yang berwawasan
kebangsaan, maka IPNU-IPPNU berkewajiban untuk mengembangkan dan menjaga
ukhuwah wathoniyah (solidaritas nasional). Dalam kenyataannya bangsa ini tidak
hanya terdiri dari berbagai warna kulit, agama dan budaya, tetapi juga
mempunyai berbagai pandangan hidup.
IPNU-IPPNU, yang lahir dari akar budaya
bangsa ini, tidak pernah mengalami ketegangan dengan konsep kebangsaan yang
ada. Sebab keislaman IPNU-IPPNU adalah bentuk dari Islam Indonesia (Islam yang
berkembang dan melebur dengan tradisi dan budaya Indonesia); bukan Islam di
Indonesia (Islam yang baru datang dan tidak berakar dalam budaya Indonesia).
Karena itulah IPNU-IPPNU berkewajiban turut
mengembangkan ukhuwah wathaniyah untuk menjaga kerukunan nasional. Karena
dengan adanya ukhuwah wathaniyah ini keberadaan NU, umat Islam dan agama lain
terjaga. Bila seluruh bagian bangsa ini kuat, maka akan disegani bangsa lain
dan mampu menahan penjajahan –dalam bentuk apapun- dari bangsa lain. Dalam
kerangka kepentingan itulah IPNU-IPPNU selalu gigih menegakkan nasionalisme
sebagai upaya menjaga keutuhan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa
Indonesia.
d)
Ukhuwwah Basyariyyah
Walaupun NU memegang teguh prinsip ukhuwah
nahdliyah, ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, namun NU
tidak berpandangan dan berukhuwah sempit. NU tetap menjunjung solidaritas
kemanusiaan seluruh dunia (ukhuwah dualiyah), menolak pemerasan dan
penjajahan (imperialisme dan neo-imperialisme) satu bangsa atas bangsa lainnya
karena hal itu mengingkari martabat kemanusiaan. Bagi IPNU-IPPNU, penciptaan
tata dunia yang adil tanpa penindasan dan peghisapan merupakan keniscayaan.
Menggunakan isu kemanusiaan sebagai sarana penjajahan merupakan tindakan yang
harus dicegah agar tidak meruntuhkan martabat kemanusiaan.
Ukhuwah basyariyah memandang manusia sebagai
manusia, tidak tersekat oleh tembok agama, warna kulit atau pandangan hidup;
semuanya ada dalam satu persaudaraan dunia. Persaudaran ini tidak bersifat
pasif (diam di tempat), tetapi selalu giat membuat inisiatif (berikhtiar) dan
menciptakan terobosan baru dengan berusaha menciptakan tata dunia baru yang
lebih adil,beradab dan terbebas dari penjajahan dalam bentuk apapun.
2.
Amanah
Dalam kehidupan yang serba bersifat duniawi
(kebendaan), sikap amanah mendapat tantangan besar yang harus terus
dipertahankan. Sikap amanah (saling percaya) ditumbuhkan dengan membangun
kejujuran, baik pada diri sendiri maupun pihak lain. Sikap tidak jujur akan
menodai prinsip amanah, karena itu pelakunya harus dikenai sangsi organisasi
secara tegas. Amanah sebagai ruh gerakan harus terus dipertahankan, dibiasakan
dan diwariskan secara turun temurun dalam sikap dan perilaku sehari-hari
3.
Ibadah (Pengabdian)
Berjuang dalam NU untuk masyarakat dan bangsa
haruslah berangkat dari semangat pengabdian, baik mengabdi pada IPNU-IPPNU,
umat, bangsa, dan seluruh umat manusia. Dengan demikian mengabdi di IPNU-IPPNU
bukan untuk mencari penghasilan, pengaruh atau jabatan, melainkan merupakan
ibadah yang mulia. Dengan semangat pengabdian itu setiap kader akan gigih dan
ikhlas membangun dan memajukan IPNU-IPPNU. Tanpa semangat pengabdian,
IPNU-IPPNU hanya dijadikan tempat mencari kehidupan, menjadi batu loncatan
untuk memproleh kepentingan pribadi atau golongan.
Lemahnya organisasi dan ciutnya gerakan
IPNU-IPPNU selama ini terjadi karena pudarnya jiwa pengabdian para pengurusnya.
Pengalaman tersebut sudah semestinya dijadikan pijakan untuk membarui gerakan
organisasi dengan memperkokoh jiwa pengabdian para pengurus dan kadernya. Semangat
pengabdian itulah yang pada gilirannya akan membuat gerakan dan kerja-kerja
peradaban IPNU-IPPNU akan semakin dinamis dan nyata.
4.
Asketik (Kesederhanaan)
Sikap amanah dan pengabdian serta idealisme
muncul bila seseorang memiliki jiwa asketik (bersikap zuhud/sederhana). Karena
pada dasarnya sikap materialistik (hubbu al-dunya) akan menggerogoti
sikap amanah dan akan merapuhkan semangat pengabdian, karena dipenuhi pamrih
duniawi. Maka, sikap zuhud adalah suatu keharusan bagi aktivis IPNU-IPPNU.
Sikap ini bukan berarti anti duniawi atau anti kemajuan, akan tetapi menempuh
hidup sederhana, tahu batas, tahu kepantasan sebagaimana diajarkan oleh para salafus
sholihin. Dengan sikap asketik itu keutuhan dan kemurnian perjuangan IPNU-IPPNU
akan terjaga, sehingga kekuatan moral yang dimiliki bisa digunakan untuk menata
bangsa ini.
5.
Non-Kolaborasi
Landasan berorganisasi non-kolaborasi harus
ditegaskan kembali, mengingat dewasa ini banyak lembaga yang didukung oleh
pemodal asing yang menawarkan berbagai jasa dan dana yang tujuannya bukan untuk
memandirikan, melainkan untuk menciptakan ketergantungan dan pengaburan
terhadap khittah serta prinsip-prinsip gerakan NU secara umum, melalui campur
tangan dan pemaksaan ide dan agenda mereka. Karena itu untuk menjaga
kemandirian, maka IPNU-IPPNU harus menolak untuk berkolaborasi (bekerja sama)
dengan kekuatan pemodal asing baik secara akademik, politik, maupun ekonomi.
Selanjutnya kader-kader IPNU-IPPNU berkewajiban membangun paradigma (kerangka)
keilmuan sendiri, sistem politik dan sistem ekonomi sendiri yang berakar pada
budaya sejarah bangsa nusantara sendiri.
6.
Komitmen Pada Korp
Untuk
menerapkan prinsip-prinsip serta menggerakkan roda organisasi, maka perlu
adanya kesetiaan dan kekompakan dalam korp (himpunan) organisasi. Karena itu
seluruh anggota korp harus secara bulat menerima keyakinan utama yang menjadi
pandangan hidup dan seluruh prinsip organisasi. Demikian juga pimpinan, tidak
hanya cukup menerima ideologi dan prinsip pergerakan semata, tetapi harus
menjadi pelopor, teladan dan penggerak prinsip-prinsip tersebut.
Segala kebijakan pimpinan haruslah
mencerminkan suara seluruh anggota organisasi. Dengan demikian seluruh anggota
korp harus tunduk dan setia pada pimpinan. Dalam menegakkan prinsip dan
melaksanakan program, pimpinan harus tegas memberi ganjaran dan sanksi pada
anggota korp. Sebaliknya, anggota harus berani bersikap terbuka dan tegas pada
pimpinan dan berani menegur dan meluruskan bila terjadi penyimpangan

0 comments:
Post a Comment