WELCOME

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Thursday, February 2, 2017

Siapa Nahdliyin Itu? Ini Jawaban KH Maimoen Zubair

Siapa Nahdliyin Itu? Ini Jawaban KH Maimoen Zubair


  Kamis, 02 Februari 2017 20:30 Nasional

Rembang, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair mengatakan bahwa untuk mengetahui siapa warga Nahdliyyin terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang, tujuan dan siapa yang mendirikan.

"NU itu berdiri tahun 1926 M, tepatnya tanggal 31 bulan Januari. Berdirinya Nahdlatul Ulama itu berdiri pertama kali lewat Muktamar. Muktamar pertama kali itu berakhir pada tanggal 31 Januari. Memilih Rais Akbar Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy'ari) dan wakilnya Kiai Faqih Maskumambang," jelasnya kepada NU Online, Kamis (2/2), di Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Moen, sapaan akrabnya menambahkan, Muktamar pertama itu dihadiri banyak ulama. Ada beberapa keanehan yang berusaha dijelaskan kiai karismatik itu. Ia menjelaskan terkait segi bahasa yang digunakan dalam penamaan Nahdlatul Ulama tersebut.

"Banyak kiai yang meng-isghal-kan (mempertanyakan) kenapa dinamakan Nahdlatul Ulama. Kata Nahdlatul Ulama itu masdar dari nahdlah, yang mengikuti wazan fa'la yang disebut sebagai masdar marrah (isim yang menunjukkan peristiwa terjadi hanya sekali)," terangnya.

Jadi inilah yang menjadi harapan organisasi  kemasyarakat Islam Nahdlatul Ulama, yakni dengan sekali bangkit, lalu bertahan untuk selamanya. Kita harus menjaga, mempertahankan sifat, corak, bentuk NU sesuai dengan tujuan berdirinya pertama kali, dengan tetap mendahulukan para ulama-ulama.

"Sehingga kalau ada pertanyaan siapa warga Nahdlatul Ulama? Jawabannya, menurut dahulu kala, ada anggota alami dan ada organisasi. Anggota organisasi yaitu yang tercatat menjadi anggota, sedangkan yang alami adalah mereka yang mengikuti para ulama," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang itu. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Selasa, 16 Agustus 2016 11:32 Fragmen 
Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan. 

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

ارخ اليفا في غشسا * صفر فكل بالواحد
بقتالهم وسيوفهم * ولججهم وتعاند
وفي رجب ترى عجبا * وفي الشهر الذي بعده
وفي رمضان همهمة * وهدَّة بعده هدَّة
وفي شوَّال يشول القوم * ويسكن في ذوي القعدة
وفيها يخرج الهادي * امام الحق لا بعده

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun غشسا ghisy-syisa

(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)

Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia

Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.

Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).

Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik.  Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)

Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang). 

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat. 

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: حر تم  (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.

PBNU: HUT RI Momentum Mengejar Ketertinggalan Bangsa

PBNU: HUT RI Momentum Mengejar Ketertinggalan Bangsa




Selasa, 16 Agustus 2016 07:00 Nasional

Bangsa Indonesia akan menapaki usia 71 tahun sejak diproklamasikan kemerdekaannya tahun 1945. Tujuh belas Agustus dipilih oleh founding fathers bukan tanpa pertimbangan, mereka ingin membangun Indonesia dengan 17 rakaat sesuai dengan bilangan shalat sehari semalam.

Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari mengatakan, “Nasoinalisme dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan dan keduanya saling menguatkan”. Bung Karno suatu ketika juga mengatakan “Nasionalisme yang sejati, nasionalismenya itu bukan copie atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi nasionalisme timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan”.

Memasuki usia 71 tahun kemerdekaan Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mencatat beberapa catatan reflektif kaiatannya dengan kondisi kebangsaan terkini:

Momentum kemerdekaan ini hendaknya harus kita jadikan momentum untuk memperbaiki segala aspek kebangsaan dan ketertinggalan kemajuan dari segi apa pun terutama pada aspek kemandiran sebagai sebuah bangsa dan negara.

Sebagai negara maritim yang luas dua pertiga wilayahnya berupa lautan sudah menjadi sebuah keharusan untuk lebih meningkakan pendapatan sektor kelautuan. Pembangunan berbasis laut juga harus menjadi landasan pemerintah dalam mengambil setiap kebijakannya.

Sebagai negara agraris, Pada 2016 target produksi padi di seluruh Indonesia sebanyak 80,29 juta ton. Angka ini naik dari produksi tahun lalu yang mencapai 75,36 juta ton. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 merilis data produksi beras Indonesia mencapai 73,17 juta ton. Perlu diingat bahwa produksi beras di Indonesia paling banyak dipengaruhi cuaca. Jika kondisi cuaca tidak stabil sebagaimana yang terjadi saat ini, maka produksi beras akan menurun. Pemerintah harus mulai mengkaji diversifikasi pangan.

Dalam sektor ekonomi peringkat kemudahan berusaha di Indonesia masih tertinggal di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Dalam rilis hasil survei Ease of Doing Business (EoDB), Bank Dunia menempatkan Indonesia di posisi 109 dari 189 negara. Posisi Indonesia kalah telak dibandingkan Singapura yang menduduki peringkat satu, Malaysia 18, Thailand 49, Vietnam 90, dan Filipina 103.

Di luar itu semua, momentum 71 tahun kemerdekaan ini kita dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan. Peristiwa penujukan seorang menteri yang diduga berkewarganegaraan asing sangat menggangu stabilitas politik dan semangat nasionalisme. Pemerintah dan juga terutama menteri terkait harus segera memperjelas status kewarganegaraanya dan sekaligus membeberkan kapada masyarakat luas. Langkah ini sangat perlu dilakukan agar publik tidak termakan isu dan kabar yang simpang siur serta tidak terjatuh dalam kubangan prasangka buruk yang dilarang oleh ajaran agama.

Merujuk pada Undang-undang Nomor 12 Tahun 2016 Pasal 23 (1) Warga negera Indonesia kehilangan kewarganegarannya jika yang bersangkutan: memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri. Dalam UU Nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negera pada pasal BAB V Pasal 22 ayat (2) juga dijelaskan bahwa “untuk diangkat menjadi menteri, seorang harus memenuhi syarat: warga negara Indonesia.

Berpindah kewargangeraan adalah ujung akhir dari kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Olah karenanya, sebagai wujud serta ejawantah dari semangat nasionalisme dan loyalitas kepada Negara, setiap pejabat negara harus berkewarganegaraan Indonesia. Semangat nasionalisme itulah yang dari dahulu dibangun oleh founding fathers NKRI seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. M Hasyim Asyari, Wahid Hasyim dkk.

Merdeka!

Kiai Mas Mansur dan Nasionalisme Kiai-kiai Pesantren

Kiai Mas Mansur dan Nasionalisme Kiai-kiai Pesantren

 
Rabu, 17 Agustus 2016 06:00 Opini 
Oleh Wasid Mansyur

Ketika penulis diberi kesempatan wawancara dengan salah satu cucu Kiai Mas Mansyur Ndresmo, yakni Ibu nyai Fatimah Zahra binti Kiai Mas Muhajir ibn Kiai Mas Mansur, terdapat cerita yang cukup menarik kaitannya dengan rasa kebangsaan (baca; nasionalisme) kiai-kiai pesantren, khususnya kiai-kiai Ndresmo Surabaya. Bagaimanapun, kiai dan santri-santri Ndresmo dikenal dalam beberapa cerita rakyat kaitan keterlibatan mereka dalam mengusir penjajah di kota Surabaya, khususnya dalam merebut kemerdekaan, meskipun sedikit sekali coretan sejarah yang menulisnya.

Keterlibatan kiai-kiai Ndresmo dalam merebut kemerdekaan telah dikenal di lingkungan santri-santri Ndresmo. Bahkan, penulis melakukan lacakan tentang hal ini, menyimpulkan bahwa dari sekian kiai-kiai tersebut adalah Kiai Mas Mansur Ndresmo. Untuk itu, tulisan ini akan lebih fokus pada sosok Kiai Mas Mansur kaitan keterlibatannya dalam merebut kemerdekaan, serta keberadaannya sebagai pemicu bagi gerakan kiai-santri untuk melawan penjajah di kota Surabaya.

Kilasan sejarah menyebutkan; setelah Belanda takluk ditangan tentara Jepang, maka terjadi proses peralihan kekuasaan terhadap bumi Nusantara. Di mana, Jepang telah melanjutkan proses menjajah dan menjarah, sekalipun pada awalnya menggunakan pola-pola yang tidak keras sebagaimana dilakukan oleh tentara Belanda. Pendekatan kooperatif ini sengaja dilakukan untuk mencari simpati masyarakat Nusantara.

Namun, dalam perkembangannya, pendekatan ini dianggap kurang memberikan keuntungan kepada Jepang hingga akhirnya Jepang pada tahun 1942 melakukan proses ideologisasi terhadap penduduk lokal. Salah satu bentuknya adalah penerapan tradisi Seikerei, yakni tradisi memberikan penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan pada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami) tepatnya setiap pukul 07.00 dengan membungkukkan badan. 

Penerapan tradisi ini memantik pembangkangan dari para kiai-santri di seluruh Nusantara. Salah satu bentuk pembangkangan itu dilakukan oleh Kiai Hasyim Asy’ari Jombang dan Kiai Mas Mansur Ndresmo Surabaya. Penyebutan kedua tokoh ini penting dalam konteks tulisan ini setidaknya keduanya sama-sama tokoh pesantren di satu sisi dan keduanya juga akhirnya di penjara oleh tentara Jepang di Kalisosok Surabaya dalam satu sel di sisi yang berbeda.

Siksaan demi siksaan diterima oleh para pembangkang, termasuk dialami oleh Kiai Mas Mansur. Konon siksaan dilakukan oleh tentara Jepang kepada Kiai Mas Mansur dengan tidak memberikan makan selama enam bulan di sel penjara. Ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Kiai Mas Mansur kepada bangsa (baca: Nasionalis). Dirinya meyakini bahwa tunduk kepada penjajah dengan mengikuti tradisi Seikerei berarti meng-iyakan terhadap kehadiran penjajah Jepang di negeri ini, apalagi dalam perspektif aqidah Islam ketertundukan kepada selain Allah SWT adalah dosa besar, untuk tidak mengatakan kufur.

Banyak tokoh-tokoh pesantren yang mencoba merayu agar Kiai Mas Mansur sedikit bersikap lunak, termasuk kiai-kiai se-Ndresmo Surabaya. Tapi, itulah tekad Kiai Mas Mansur, sekalipun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Kiai Mas Mansur selama di penjara oleh tentang Jepang, tapi dirinya tetap mengisi rutinitas pengajian kitab kuning bersama para santri di pesantren yang dia asuhnya, yang sekarang dikenal dengan sebutan pondok pesantren Annajiyah. 

Bahkan, Kiai Hasyim Asy’ari, teman satu sel dengan Kiai Mas Mansur, ketika dijemput oleh putranya Kiai Wahid Hasyim untuk pulang berkat lobi-lobi seluruh kiai pesantren se-Jawa dan Madura, sempat terjadi dialog. Inti dialog itu adalah agar Kiai Mas Mansur bersikap lunak dengan tentara Jepang dengan dialog imajiner kurang lebih sebagaimana berikut:

Kiai Hasyim: 
Kang Mas, saya berharap “sampean” bersikap lunak kepada tentara Jepang dengan mengikuti tradisi Seikerei. 
Hal ini penting demi keselamatan jiwa kang Mas, apalagi ada ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa kita diperbolehkan mengikuti prilaku kufur –selama hati masih beriman-- yang dipaksakan dan mengancam jiwa kita sebagaimana disebutkan dalam surat al-Nahl [27); 106.

Kiai Mas Mansur:
Kang Hasyim, ini sudah pilihan saya. Kematian sampun ada garisnya masing-masing. “Panjenengan” lebih baik keluar penjara dalam rangka meneruskan pesantren yang telah dirintis, sekaligus meneruskan perlawanan terhadap penjajahan Jepang dengan menggalang kekuatan rakyat dan santri yang lebih besar. Biar aku di penjara saja, apalagi di pesantren Ndresmo telah aku persiapkan generasi yang sudah siap meneruskan kepengasuhan.

Keteguhan Kiai Mas Mansur terus tidak berubah dan tidak menyerah kepada tentara Jepang, sembari ia tetap istiqamah menggelorakan anti penjajah kepada mereka yang menjenguknya. Inilah yang menjadi sebab pihak Jepang mengambil jalan pintas untuk membunuh Kiai Mas Mansur, demi stabilitas dan kepentingan Jepang. Dengan begitu, akhirnya Kiai Mas Mansur benar-benar dibunuh di penjara oleh tentara Jepang dan dimakamkan di makam para sesepuh pesantren Ndresmo Surabaya. 
      
Belajar dari Kiai

Dari kisah kiai-kiai pesantren, terkhusus dari Kiai Mas Mansur, setidaknya ada dua pelajaran penting bagi generasi muda dalam menapaki jalan dalam membumikan visi beragama dan berbangsa di masa-masa yang akan datang. pertama, visi kebangsaan para kiai-kiai pesantren. Kecintaan kepada bangsa adalah bagian dari perintah agama. Logika berpikir ini bermula bahwa segala bentuk penjajahan mengakitkan munculnya kemudharatan bagi masyarakat luas, termasuk tidak bebasnya seseorang untuk melaksanakan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya.

Untuk itu, dengan cinta kepada bangsa (hubbl al-wathan) sejatinya kita berusaha untuk menyingkirkan segala bentuk kedhalimanan yang berujung pada lahirnya kemudharatan kepada masyarakat. Memerangi kedhaliman adalah perintah agama (iyyakuum wa al-dhulm, fainnahu dhulumatun yawm al-qiyamat), sekalipun tidak harus menggunakan Islam sebagai ideologi dalam bernegara sebagaimana menjadi impian sebagian kelompok tertentu. 

Kedua, visi kesalehan beragama para kiai pesantren. Bagi kalangan pesantren, praktik-praktik keagamaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan yang dipraktikkan itu tidak saja dalam koteks praktis, tapi juga teoritis keilmuan. 
Artinya, para kiai pesantren memiliki keteguhan total dalam beribadah baik secara vertikal (ketuhanan) maupun horizontal (kemanusiaan). Tapi, sikap tawadhu’nya dengan merasa belum sempurna mengantarkan mereka terus menggali ilmu-ilmu keislaman sepanjang hayat, baik dibaca sendiri maupun dibacakan di hadapan santri atau terus belajar kitab kuning kepada ulama yang dipandang memiliki integritas kealiman. 

Akhirnya, kiai-kiai pesantren -yang telah mendahului kita dan terlibat langsung dalam proses menuju kemerdekan- harus menjadi cermin bagi kita semua, yang hanya menikmati damainya Indonesia saat ini. Tidak ada tujuan yang diinginkan, kecuali semoga kelak kita disertakan bersama mereka dihari kemudian, mengutip pesan keabadian Imam Shafi’i. Semoga.

Penulis adalah akademisi Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Surabaya, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"


Rabu, 17 Agustus 2016 11:05
Surabaya, NU Online
Tidak banyak yang diingat Tondo, ketika diminta menceritakan perjalanannya menjadi seorang pejuang puluhan tahun lalu. Yang diingat hanya Mbah Hasyim Tebuireng (Kiai Hasyim Asy'ari), sebagai salah satu tokoh pemimpin perang.

Veteran yang konon berusia lebih dari 100 tahun asal Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan ini, menyebut, tokoh pendiri ormas Nahdatul Ulama itu adalah tokoh agama asal Pesantren Tebuireng, Jombang yang memimpin kelompok santri dan warga sipil.

"Menang atau kalahnya perang apa kata Kiai Hasyim," kata dia yang didampingi Sutrisno, salah satu putranya, Selasa (16/8/2016) malam.

Tondo tidak ingat lagi siapa pimpinan perangnya saat itu. Dia hanya ingat bahwa dia ikut bergerilya dari Madiun ke Surabaya.

"Senjatanya pakai pasir batu, dan bambu runcing," kata Tondo.

Meski sudah sepuh, Tondo masih terlihat sehat. Hanya saja saat berkata-kata terdengar kurang jelas, karena semua giginya sudah tanggal.

Tondo tercatat pernah menerima penghargaan Bintang Gerilya dari Kodam V Brawijaya pada 1983.

Sutrisno, satu dari 11 putra Tondo dari lima isterinya, mengatakan, ayahnya selalu bersemangat saat melihat banyak bendera merah putih yang selalu dipasang saat perayaan HUT kemerdekaan.

"Bapak saya selalu tidak bisa tidur dan banyak bercerita soal perang," jelasnya.

Kemarin, Tondo dan 60 veteran lainnya di Jawa Timur mendapat layanan bedah rumah dari Kodam V Brawijaya bekerjasama dengan sejumlah BUMN.

Menurut Pangdam V Brawijaya, Mayjen I Made Sukadana, yang diberikan untuk para veteran sebenarnya belum sepadan dengan apa yang mereka telah lakukan untuk bangsa.

"Tapi bedah rumah veteran adalah salah satu aksi nyata kami sebagai bentuk perhatian kepada para veteran," ungkap dia. (Kompas.com/Mahbib)

Awal Mula Masuknya Islam di Indonesia Menurut Mbah Maimoen

Awal Mula Masuknya Islam di Indonesia Menurut Mbah Maimoen

 
Rembang, NU Online
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair dalam acara Stadium General (kuliah umum) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis (29/9) lalu menceritakan terkait awal mula masuknya agama Islam di Indonesia.

Mbah Maimoen sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pondok pesantren Sarang ini merupakan pondok yang kebesarannya dimulai pada tahun 1850 M. Ia menceritakan tentang kebesaran agama Islam di Indonesia dan tidak ada yang menyamainya.

"Saya mendapat cerita dari guru saya Syeikh Yasin al-Fadani, kedatangan Islam di Indonesia mula-mula pada waktu perang Shiffin, yakni antara kelompok Muawiyah dan kelompok Sayyidina Ali," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang tersebut.

Bahwa Negara mayoritas Islam itu pasti Islam datang di zaman-zaman masa keemasan. Kalau dalam Al-Quran disebut as-Sabiqunal al-Awwalun. Yaitu seratus tahun pertama sebagai zaman nabi-sahabat, seratus tahun kedua sebagai zaman tabi'in, dan seratus tahun ketiga zaman tabi'in tabiat.

Pada perang Shiffin, lanjut Mbah Maimoen, itu kemenangan pada kelompok Muawwiyah, sehingga Ali terpecah belah. Terpecah belahnya Ali ini menjadi empat kelompok, ada yang disebut khawarij, adanya kelompok Ali yang fanatik berlebihan, ada yang netral, dan ada kelompok kecil yang disebut anak-anak perahu.

"Anak-anak perahu ini bertekad untuk meninggalkan negeri Arab melalui teluk Persia. Kemudian dengan naik perahu pasrah kepada Allah dimana perahu itu akan sampai, dan dimana akan mendarat. Pertama kali mendarat, perahu mereka sampai di Medan," ungkap kiai sepuh yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Oleh karena itu, di Medan walaupun Islamnya tidak besar tetapi ada sebuah istana yang dikagumi yakni bernama istana Maimoon. "Saya sendiri bertanya, kenapa disana ada istana yang bernama istana Maimoon?" guraunya sembari tertawa ringan didepan ratusan mahasiswa STAI Al-Anwar tersebut.

Dalam acara tersebut turut hadir pula sebagai narasumber utama KH Lukman Hakim Saifuddin yang menjabat sebagai Menteri Agama RI. Hadir pula KH Abdul Ghofur Maimoen (Ketua STAI Al-Anwar), H Abdul Hafidz (Bupati Rembang), KH Majid Kamil Maimoen (Ketua DPRD Rembang) dan beberapa undangan dari MWCNU Sarang.

"Di Medan itu kalau kita lihat, antara Medan dan Padang Panjang ada kuburan-kuburan yang tidak diketahui. Itu kata guru saya Syeikh Yasin merupakan jejak kedatangan dari bangsa Arab masuk ke Indonesia pertama kali sebagai penyebar Islam. Walaupun mereka tidak sengaja untuk menyebarkan, tujuan mereka untuk mengungsikan diri," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Empat Penyelamat Fitnah Dunia Menurut Mbah Soleh Darat

Empat Penyelamat Fitnah Dunia Menurut Mbah Soleh Darat


Suasana ingar-bingar dan keriuhan "kekuasaan" membuat orang lupa makna ukhuwah. Seakan kekuatan manusia hinggap melebihi kemampuan dan taqdir Tuhan. Lalu bagaimana para masyayikh memberikan wejangan bagi para santri?

KH Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Sholeh Darat memberikan penjelasan yang menyejukkan agar hidup selamat di dunia dan terhindar dari fitnah kejahatan dunia.

Dalam kitab Minhajul Atqiya' fi Syarhi Ma'rifatil Adzkiya' ila Thariqatil Auliya halaman 99, Mbah Sholeh Darat menjelaskan dua bait nadzam karya Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al Malibari.

Kitab ini selesai ditulis oleh Mbah Sholeh Darat pada waktu ashar tanggal 11 Dzulqa'dah 1316 H (Kamis Pon, 23 Maret 1899 M). Isi kitabnya sangat luar biasa tentang ilmu tasawwuf dan kewalian.

Ada empat hal yang harus dilakukan oleh manusia dalam menghadapi fitnah kejahatan dunia dalam rangka membuat langkah selamat hidup di dunia. Ini semua dilakukan sebagai antisipasi agar selama hidup di dunia tetap dalam kondisi tenang dan tidak merasakan kesusahan.

Apa empat hal yang dimaksudkan oleh Mbah Sholeh Darat sebagaimana pendapat Syaikh Zainuddin Al Malibari?

Pertama, memberi maaf atas kebodohan manusia. Ketika ada orang bodoh yang tidak memberikan hormat pada manusia, maka tugas kita adalah memaafkan. Itu semua dalam rangka memahami bahwa kebodohan seringkali membuat orang lain menjadi susah. Jikalau mereka tidak bodoh, maka tidak akan membuat orang susah.

Kedua, jangan sampai menjadi orang bodoh terhadap hak-hak manusia. Kondisi bodoh akan membuat suasana hidup yang tidak nyaman. Bahkan kadang kebodohan yang dimilikinya akan menjadi alat untuk menghina orang lain (yang seharusnya lebih pandai).

Ketiga, harus konsisten dalam hidup dan jangan sekali-sekali berharap pemberian orang. Tampaknya ini jelas memberikan dorongan bahwa hidup dengan bergantung pada orang lain akan membuat tidak produktif.

Keempat, jadilah dermawan (ahli memberi kepada orang lain). Nasehat menjadi dermawan inilah yang membuat jatidiri manusia sejati itu muncul karena menghormati dirinya sendiri.

Bagi Mbah Sholeh Darat, empat hal ini penting untuk dijalani dengan baik. Sebab jika dilaksanakan dengan baik, maka kita akan mendapatkan kasih sayang dari manusia dan terselamatkan dari kebencian manusia.

"Barangsiapa yang tidak melaksanakan empat hal ini,  maka pasti terjadi konflik (padu tukar) yang menyebabkan lahirnya fitnatunnas (fitnah manusia)," demikian penegasan Mbah Sholeh Darat.

M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Habib Luthfi: Orang Bertakwa Pengayom, Bukan Pemecah Belah Bangsa

Habib Luthfi: Orang Bertakwa Pengayom, Bukan Pemecah Belah Bangsa


Rais Aam Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengatakan kandungan merah putih menjadi kehormatan bangsa. Untuk itu perlu disyukuri denganlita'arafu, saling kenal-mengenal. Perbedaan menjadi berkah karena orang yang paling mulia yang di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa. 

“Orang yang bertakwa tentunya menjadi pengayom, penyejuk, bukan pemecah belah. Mari kita perkokoh NKRI, dengan bangga menjadi bangsa Indonesia, NKRI Harga Mati,” tutur Habib Luthfi ketika mengisi taushiyah dalam kegiatan istighotsah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (2/12). 

Diakui Habib, saat ini banyak berusaha memecah belah bangsa yang tentunya membikin keresahan dan kegelisahan masyarakat, juga membuat kekhawatiran aparat keamanan. Tetapi upaya pemecahbelahan bangsa Indonesia tidak akan terjadi kalau kita semua menjaga persatuan, menguatkan barisan antara ulama dan umara.

“Kita harus malu pada Sang Merah Putih karena bendera bangsa Indonesia didapat dengan tetesan darah, nyawa bahkan anggota keluarga, akankah kita cuma lesu tak berbuat untuk mempertahankan NKRI?” tegasnya.

Kegiatan istighosah tersebut diprakarsai Polres Brebes sebagai upaya menjaga kebhinnekaan dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena ditengarai, menurut Kapolres Brebes Luthfi Sulistiawan, semangat persatuan dan kesatuan mulai luntur yang mengakibatkan menurunya semangat kebangsaan.

Kapolres juga menjelaskan, kalau sekarang Polri tengah mengembangkan polisi masyarakat. Dalam artian peran serta masyarakat sangat dikedepankan. Termasuk dengan peran ulama dan umara yang bersatu, akan memperkokoh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pelantikan IPNU-IPPNU kec Patimuan 2014-2016

Pelantikan IPNU-IPPNU kec Patimuan 2014-2016


















Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
Ketua
David Bell
Ketua
Eve Stinger
Ketua
Will Peters
Ketua

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Gedung MWC NU Patimuan

Jl. Sawunggalih Cinyawang, Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia 53264

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

-