WELCOME

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Tuesday, July 30, 2019

PEDOMAN KADERISASI IPNU 2018



PENGANTAR TIM PENYUSUN

Tiada kata-kata yang pantas terucap selain ucapan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan maunah-Nya sehingga buku ini bisa disusun, ditulis dan diterbitkan sesuai waktu yang direncanakan. Tak ada satupun kekuatan, kecuali pertolongan Allah yang menjadi faktor penentu sehingga buku ini bisa diterbitkan dan diterima oleh khalayak kader IPNU di seluruh
Indonesia.

Tak banyak yang ingin disampaikan pada antaran kali ini dari tim penulis, kecuali bahwa buku ini ditulis bukan menjadi penyempurna bagi buku pedoman kaderisasi yang sudah ada, baik yang 2004 maupun 2014. Buku kecil ini merupakan pelengkap bagi keduanya, karena banyak dari bagian-bagian buku pedoman kaderisasi sebelumnya, disadur dan ditulis ulang dalam buku ini mengingat relevansinya yang masih bisa dipertahankan.

Dengan kalimat lain, buku ini ditulis bukan untuk menjadi kesombongan akademik (atau politis) bahwa yang terakhirlah yang terbaik. Tentu dalam berkhidmat di IPNU tak ada yang lebih baik dan sempurna. Semua tak lain adalah proses belajar dan mempelajari kebutuhan kaderkader IPNU di daerah yang memerlukan petunjuk pelaksanaan kaderisasi yang kekinian.
Buku ini sengaja ditulis dengan sangat ringkas dan tidak bertele-tele agar bisa dipahami dengan mudah oleh kader guna menyelenggarakan proses kaderisasi yang menjadi misi utama IPNU sebagai organisasi pengkaderan. 

Wa akhiran, tak ada gading yang tak retak. Harapan kami dari tim penulis, semoga buku ini bisa diimplentasikan diseluruh tingkat kepengurusan IPNU diseluruh Indonesia. Serta harapannya, pada kader di daerah memberikan feed back/umpan balik berupa perbaikan-perbaikan untuk penataan kaderisasi IPNU lebih baik ke depan.

Penyusun,

W Eka Wahyudi &
Mufarrihul Hazin



Berikut ini buku Pedoman Kaderisasi IPNU Desember 2018 lalu:




DOWNLOAD DISINI

Monday, December 31, 2018

2019, IPNU Tingkatkan Deradikalisasi Pelajar dengan Kaderisasi


Jakarta, NU Online
Selain soal tawuran dan moral, pelajar juga terjangkiti virus radikalisme. Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Budi Gunawan dalam Kongres BEM PTNU mengungkapkan bahwa 23,4 persen pelajar Indonesia setuju jihad demi mengangkatnya negara Islam.

Melihat hal itu, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dalam menyongsong tahun baru ini akan terus mengupayakan deradikalisasi melalui kaderisasi IPNU.

"Agar bibit radikalisasi bisa diredam, kita maksimalkan gerakan kaderisasi IPNU, nilai Ahlussunah wal jama'ah dan nasionalisme di sekolah-sekolah," kata Aswandi Jailani, Ketua Umum Terpilih Pimpinan Pusat IPNU pada Senin (31/12).

Aswandi memandang perlu mengangkat ruang pelajar di sekolah guna menanamkan rasa nasionalisme dan moderatisme beragama. Pengaderan di sekolah umum, tidak terbatas di madrasah dan pondok pesantren, menjadi penting.  

"IPNU harus masif melakukan pengkaderan di sekolah-sekolah umum, bukan hanya di pondok pesantren dan sekolah madrasah saja," katanya.

Proses pengaderan, menurutnya, tidak sebatas pengkaderan formal seperti Makesta, Lakmud, hingga Lakut. Tapi juga dengan memberikan kebutuhan kader. Kajian ilmu agama, sosial dan budaya, misalnya. IPNU di masing-masing tingkat perlu menyediakannya.

Hal serupa juga, lanjutnya, perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas kader di bidang yang mereka minati. "IPNU harus memfasilitasi, setidaknya menyediakan jalan bagi mereka yang punya ketertarikan pada bidang tertentu," katanya.

Sebagai organisasi kepelajaran di bawah naungan Nahdlatul Ulama, IPNU memiliki tanggung jawab besar di tingkat bawah guna melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan masa depan. (Syakir NF / Abdullah Alawi)

Sumber : Nu Online

Sunday, January 21, 2018

Ketum IPNU: Memperjelas Peran Abdullah dan Khalifatullah

Kabar dari Warga 

January 21, 2018
Hadirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dalam konteks kaderisasi pada prinsipnya adalah untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah. Tantangan untuk menangkal paham radikalisme dan fundamentalisme agama kian kompleks.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid usai melantik PC IPNU Kabupaten Bogor pada Ahad (21/1), di Gedung Kesenian dan Olahraga Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Asep juga mengatakan bahwa di sekolah-sekolah umum, hampir 24% pelajar menyepakati tegaknya sistem pemerintahan berbasis Khilafah Islamiyyah. Padahal, pada 2010 lembaga survey membuktikan hanya 9%.

“Data statistik membuktikan bahwa peningkatan kesepakatan berdirinya Khilafah sangat signifikan. Tantangan kita semakin kompleks di tengah maraknya isu yang berkembang. Sebanyak 24% itulah, mereka mempunyai kesepakatan terhadap berdirinya khilafah Islamiyyah,” ungkap Asep.

Menanggapi isu tersebut, ia mengatakan, harus menjadi tugas bersama. Aparat kepolisian, pejabat pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat mesti bersinergi untuk melakukan pencegahan antisipatif. Asep membenarkan bahwa orang-orang yang turut meneriakkan khilafah dan gemar mengucapkan takbir seraya melakukan kekerasan itu merupakan kelompok yang secara amaliyah dan ubudiyah sesuai dengan NU.

“Tapi kenapa mereka begitu? Hal itu karena opini publik yang mereka bentuk, hadir di banyaknya media yang mereka buat sendiri. Sementara kita belum mampu menghadirkan media yang minimal, berimbang. Kalau hari ini, kita memproduksi tiga berita, sore hari mereka bisa memunculkan puluhan berita,” tegasnya.

Orang-orang yang secara gerakan berseberangan dengan NU, begitu massif dalam memproduksi berita di media. Sementara warga NU, “kerjanya hanya dialog, diskusi, bertatap muka dengan kader, menyapa warga dan jamaah, sedangkan mereka kerjanya hanya mengurusi media sosial,” katanya.

Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang jumlah penduduknya terbesar di Indonesia. Sedangkan Bogor adalah wilayah yang penduduknya terbesar di Jawa Barat. Maka, bagi Asep, PC IPNU Kabupaten Bogor masa khidmat 2017-2019 yang baru dilantik mampu mengcounter gerakan anti-Pancasila, akan menjadi nilai plus bagi kepengurusan di bawah komando Syukron Ma’mun.

Menurut Ketua PW IPNU Jawa Barat 2014-2015, Allah memerintahkan manusia untuk menjalankan dua hal. Pertama, menjadi seorang hamba. Kedua, menjadi Khalifah. Keduanya, terekam dalam gerakan yang dilakukan IPNU.

“Dalam konteks seorang hamba, kita dituntut melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Di sisi lain, sebagai Khalifah, kita punya tugas suci meneruskan risalah kenabian dengan mengelola seluruh alam dan seisinya. Kita tidak bisa asik sendiri atas nama ibadah, tapi mengabaikan kehidupan sosial. Kita juga tidak bisa asik melakukan kegiatan atas nama agama, tapi di saat yang sama kita menyakiti saudara kita yang lain. Kita tidak bisa melakukan perjuangan, tapi sembari merusak,” tegasnya.

Seperti itulah, kata Asep, tugas IPNU. Menjadi seorang Khalifah di muka bumi yang mengelola dan merawat seisi bumi. Bukan hanya manusia saja, tapi juga alam dan lingkungannya. Pemikiran dan keharmonisan di dalamnya. “Itu titik pangkal kita ber-IPNU dalam rangka meringankan beban dan tugas untuk Abdullah dan Khalifatullah untuk bersama-sama melakukan perbaikan,” ucapnya.

Korelasinya, siapa pun yang berproses di IPNU tidak akan mudah menjustifikasi seseorang salah. Tidak mudah mempersalahkan pilihan orang lain. Terlebih, berselisih karena berbeda pilihan. Maka, ikrar yang sudah diucapkan oleh pengurus PC IPNU Kabupaten Bogor berfungsi untuk menyatukan sinergi semua gagasan untuk menuntaskan segala tantangan yang ada.

“Tantangan kita berada di segmen pelajar dan santri. Pesantren dan sekolah. Kalau di Bogor, gerakan dan kesepakatan atas Khilafah sudah sangat massif. Maka, IPNU harus bisa melakukan counter dan melawan pemikiran-pemikiran itu,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Ciamis itu.

Maka, tegas Asep, IPNU harus bisa mentransformasikan Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di kalangan santri dan pelajar. Salah satunya melalui berbagai program yang menitikberatkan pada ritual dan tradisi NU secara struktur dan sistematis.

Ia menegaskan, dalam memperkenalkan NU jangan hanya sebagai sebuah tradisi. Namun, dalam konteks kader IPNU, perlu mendiskusikan hal itu. “Seberapa besar kita tahlilan dapat membangun soliditas. Kian banyak kita mendiskusikan satu amaliyah tapi dengan melibatkan konteks lain, tentu akan memperkaya khazanah ke-NU-an sekaligus akan melahirkan daya tarik orang untuk ikut melakukan amaliyah,” katnya, disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Soal pengemasan dalam dakwah, Asep menambahkan, menjadi hal yang sangat krusial. Dari sisi tradisi, misalnya, kelompok anti-Pancasila tidak banyak melakukan ritual. Sebab, yang dilakukannya hanya memperbanyak kata-kata laknat dan caci-maki. Sementara NU punya banyak amaliyah yang bisa dikembangkan untuk memperkenalkannya di tengah masyarakat, khususnya pelajar dan santri.

“Saya menjadi saksi bahwa PC IPNU Kabupaten Bogor dari masa ke masa, grafiknya selalu naik,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, selain Asep, hadir pula Sekretaris PW IPNU Jabar Rizki Topananda, Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Bogor KH Romdon, Majelis Alumni IPNU yang sekaligus Sekretaris Menteri Agama KH Khoirul Huda Basyir, Kapolres Kabupaten Bogor Andi Dicky Pastika Gading, dan pejabat pemerintah setempat.

sumber :
http://www.jagatngopi.com/ketum-ipnu-memperjelas-peran-abdullah-dan-khalifatullah/

Sunday, July 2, 2017

Pelajar NU Diminta Pertahankan Ajaran Ahlul Sunnah Wal Jamaah Ala Nahdliyah

BATANG – Pelajar yang tergabung dalam ikatan pelajar putra dan putri nahdlatul ulama (IPNU IPPNU) di Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IAIN Pekalongan diminta untuk menjaga serta mengaplikasikan doktrin nadhlatul ulama yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hal demikian ditetapkan oleh Anggota DPR RI Bisri Romly yang juga mantan aktivisi IPNU era 1970-an tersebut, dalam acara Massa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU IPPNU yang digelar Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IAIN Pekalongan, di aula balai desa Candiireng, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Senin (1/5).

Menurutnya, selaku pelajar NU memiliki tugas dan tanggung jawab besar. Pasalnya, di era globalisai yang serba terbuka serta membanjirnya informasi melalui media internet berbagai pemikiran keagamaan dengan mudah masuk.

Karenanya, dibutuhkan filter kuat untuk menghadapi era keterbukaan informasi. Beroganisasi melalui IPNU adalah salah satu wadah saling belajar dan menguatkan kapasitas pribadi masing-masing anggota. “Di lingkungan IAIN sendiri komunitasnya juga jamak, mahasiswanya datang dari berbagai laterbelakang ideologi. Maka penguatan ideologi kepada kalangan pelajar NU harus diperkuat, IPNU adalah salah satu wadahnya,” kata Anggota Fraski PKB DPR RI tersebut dalam massa resesnya.

Kalangan pelajar NU, kata dia, juga harus mampu menjawab pertanyaan zaman dan dari kalangan yang mempertanyakan ideologi NU dengan berbagai landasan serta argumentasi ilmiah dan rujukan dari ulama yang jelas. Misalnya, kenapa terjadi perbedaan pendapat dari kalangan Muslim mengenai batalnya wudhu. Aktivis IPNU, lanjut dia, harus bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan istinbat hukum.

Sementara itu, Hasan mantan aktivisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur itu menyampaikan mengenai sejarah terjadinya resolusi jihat. Kemudian, mengepa pendiri NU KH Hasyim Ashari mengeluarkan fatwa mempertahankan tanah air adalah wajib. “Peristiwa keluarnya fatwa itu, selanjutnya dikenal dengan peristiwa resolusi jihad,” terangnya.

suaramerdeka.com

SELAMAT ULANG TAHUN KIAI KU Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.

***
Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir NU Online. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak  menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***
Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Saturday, July 1, 2017

Koleksi kitab

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam hangat ��

Bagi yang ingin menambah koleksi kitab, buku dan referensi Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama mempersembahkan *KMNU E-Library* yang bebas diakses oleh siapapun:

Aswaja
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCNmZ4d08ybHgyd1U

E-Book NU
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCR08tNHNzZlA5Y0k

Kitab-Kitab Nusantara
https://drive.google.com/open?id=0B49krkb9SjaCeUVvYV9IX1RiOG8

Kitab-Kitab Fikih
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUWhvQnByMVRPSzA

Kitab-Kitab Tafsir
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUUM1RjhwdXl3MXM

Kitab-Kitab Hadits
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCOS1tRmNmclR5bE0

Kitab-Kitab Nahwu Shorof
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCZlRBN3VpeFg2YWc

Kitab-Kitab Tarikh
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCcjJ6ejdsQ3pYRXM

Kitab-Kitab Maulid ar-Rasul
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCTmpjZEpFYUxmWFE

Kitab-Kitab Tashowwuf
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCdzQyMm5iVWNRdVk

Kitab-Kitab Tauhid
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCdERKYW9nUk9HWlE

Nadzoman
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCSllfY1NNeGtfWlE

Kitab-Kitab Karya Imam Ghozali
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCQURIUzY3WDdlcEE

Kitab-Kitab Karya Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCbUNqd3hJdHNRUjQ

Tuesday, June 13, 2017

Gus Wahid

Gus Wahid, demikian ia biasa disapa, lahir pada Jum’at 1 Juni 1914, dari pasangan K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri NU, dan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Ia anak lelaki pertama pasangan tersebut. Umur lima tahun, Wahid Hasyim mulai belajar mengaji kepada ayahnya, dan umur tujuh tahun sudah khatam Al-Quran. Umur l3 tahun, ia masuk pesantren di Siwalan Panji, Sidoarjo, Mojosari, Nganjuk, dan Lirboyo. Setelah itu ia belajar sendiri berbagai ilmu pengetahuan.

Tahun 1932, ketika berumur 18 tahun, ia pergi haji dan bermukim di Tanah Suci selama dua tahun.
Empat tahun sepulang dari Tanah Suci, ia bergabung dengan NU. Di NU ia mulai dari bawah, sekretaris tingkat ranting di Desa Cukir. Namun lompatan panjang terjadi. Tak lama kemudian ia dipercaya menjadi ketua NU cabang Jombang, dan ketika departemen maarif (pendidikan) NU dibuka pada tahun 1940 ia ditunjuk sebagai ketuanya. Sejak itu ia duduk di barisan pengurus PBNU.

Pada umur 25 tahun ia menikah dengan Solichah binti K.H. Bisri Syansuri. Mereka  pasangan yang serasi, termasuk dalam dunia politik. Ketika sang suami menjadi menteri, sang istri pun menjadi anggota DPR. Pasangan ini dikaruniai enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan. Bulan Maret 1942, Jepang mendarat. Semua ormas dan orpol Islam dilarang, dan dibentuk MIAI. Kiai Wahid terpilih menjadi ketuanya. Kedudukan itu, belakangan, mengantar dirinya ke pusat perjuangan bangsa Indonesia di zaman Jepang. Ia menjadi anggota Cu Sangi In, kemudian Dokuritsu Zombi Cosakai, hingga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

K.H. Wahid Hasyim adalah salah satu dari sembilan orang yang menandatangani Piagam Jakarta. Sikapnya yang tegas tapi luwes menjadikannya figur yang dapat diterima oleh berbagai kalangan kendati umurnya baru sekitar 30 tahun. Suksesnya mengintegrasikan kelasykaran golongan Islam ke dalam TRI, dan kemudian TNI, mengantarnya menjadi penasihat Panglima Besar Soedirman hingga terjadi Clash I, pemberontakan PKI Madiun, dan Clash II. Setelah ayahnya wafat pada 25 Juli 1947, ia mengasuh Pesantren Tebuireng.

Dalam Kabinet Sukiman, ia menjadi menteri agama. Lima kali ia menjadi menteri. Yaitu menteri negara dalam Kabinet Presidentil I (1945), menteri negara dalam Kabinet Syahrir (1946-1947), menteri agama Kabinet RIS (1949- 1950), menteri agama Kabinet Natsir (1950- 1951), dan menteri agama Kabinet Sukiman (1951-1952).
Setelah tidak menjadi menteri, ia aktif dalam Partai NU, yang saat itu baru memisahkan diri dari Partai Masyumi.
Pada 19 April 1953, ia dipanggil ke haribaan Allah SWT dalam suatu kecelakaan lalu lintas di Cimindi, Cimahi, Jawa Barat, dalam usia 39 tahun. Jenazah dimakamkan di Tebuireng, hari itu juga. Dengan Keppres No. 206/1964 tertanggal 24 Agustus 1964, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional disandangkan kepada K.H. Wahid Hasyim.
Sumber : wikipedia

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
Ketua
David Bell
Ketua
Eve Stinger
Ketua
Will Peters
Ketua

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Gedung MWC NU Patimuan

Jl. Sawunggalih Cinyawang, Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia 53264

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

-